Seniman Pinggiran Pameran di Alun-alun Utara Bertajuk META NI

user
Danar W 09 November 2022, 17:50 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Seniman pinggiran dari Imogiri, Dlingo dan Jetis, Bantul sisi timur yang tergabung dalam Paguyuban Sidji menggelar pameran bertajuk META NI di Jogja Gallery Pekapalan Alun-alum Utara, 8-18 November 2022. Menarik, 26 seniman dari berbagai latarbelakang ikut memamerkan karya seni rupa di ruang pamer yang prestisius di tengah Kota Yogyakarta tersebut.

Paguyuban Sidji adalah sebuah perkumpulan seniman yang terikat secara tempat atau geografis. Sidji merupakan singkatan dari Seniman Imogiri, Dlingo dan Jetis. Berdasarkan Sejarah Singkat Paguyuban Sidji tulisan Muhammad Fikri Muas, komunitas ini terbentuk pada awal tahun 1999. Dimulai berkumpulnya beberapa seniman di Imogiri, mereka yaitu Suraji, Supangadi, Sri Harso, Sumardi, Sadarisman, Pencusanto, Dwi Haryanta, Sutrisno dan kawan-kawan.

Sepa Darsono, Ketua Penyelenggara Pameran, mengatakan paguyuban Sidji adalah kelompok kesenian, namun keseharian banyak dari anggota tidak hanya menggantungkan hidup dari kesenian saja. Ada yang berprofesi sebagai guru, toko kelontong, penjual tanaman, penjual pisau, petani bahkan debt collector.

“Anggotanya ada 41 orang, yang sampai tahun 2021 telah mengadakan sekitar sebelas kali pameran. Anggota paguyuban Sidji juga mengalami regenerasi atau berkelanjutan. Anggota komunitas juga beragam dari segi umur, ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kemampuan dan posisi karir berkesenian. Di sinilah asal kami menemukan Metani dan metaverse sebagai tema pameran ini,” ungkap Sepa saat pembukaan pameran, Rabu (9/11/2022).

Metani berasal dari petan, dalam bahasa Jawa berarti cari kutu atau lingsa (telur kutu), menjadi kata yang mewakili kegiatan aktif yaitu mencari kutu. Sedangkan petani atau lebih sering diucapkan Metani bermakna pasif yaitu dicari kutunya. Dahulu mencari kutu ini merupakan kebiasaan dilakukan ibu-ibu disela pekerjaan. Karena mencari kutu (metani) dilakukan sendiri, sehingga merupakan bentuk kegiatan dalam lingkup komunal.

“Pada saat mencari kutu inilah terjadi perbincangan astar kaum perempuan. Menjadi kesempatan untuk saling bercanda, bertukar kabar berita, gosip bahkan juga pengetahuan. Karena kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi sering anak-anak juga hadir disana. Sehingga bisa muncul nasehat dari ibu-ibu kepada generasi dibawahnya,” sambung Janu PU, salah satu seniman Paguyuban Sidji.

Bagi Paguyuban Sidji, kata tersebut dimaknai sebagai "memetakan" karena perkembangan seni rupa saat ini terhubung erat dengan berbagai persoalan di luar dunia seni. Ketika dahulu perubahan ekonomi, sosial, politik dan budaya sendiri cukup berpengaruh, saat ini ditambah kuatnya dunia industri dan luas jangkauan tehnologi informasi membuat perubahan cepat dan sulit dikuti.

“Memetakan berarti berusaha melihat dunia seni rupa secara menyeluruh (universal) sehingga segala kemungkinan akan terjadi dapat dilihat secara obyektif. Hal ini menjadi penting untuk menentukan keputusan- keputusan bagi keberadaan komunitas selanjutnya. Termasuk perkembangan dan pengaruh metaverse di masa depan. Metaverse adalah dunia maya yang diciptakan meniru berbagai hal yang ada di dunia nyata dalam versi data (digital).

Dalam metaverse juga terdapat hubungan antar manusia serta hukum ekonomi. Bagi generasi muda yang akrab dengan perkembangan sistem informasi internet, hal tersebut merupakan harapan baru. Metaverse sedang berkembang untuk terlepas dari hukum di dunia nyata menggunakan mata uang sendiri. Ini menjadi kesempatan bagi anak-anak muda karena segala kemungkinan terjadi,” sambung Janu lagi.

Sementara, Mieke Soesanto kurator seni yang membuka pameran mengatakan Metani menjadi momentum menyenangkan bagi seniman karena bisa berjumpa langsung dengan penikmat seni. Sidji merupakan salah satu di antara banyak kolektif seni di Jogja yang melalui proses kehidupan.

“Paguyuban Sidji ini berisi perupa dengan banyak konsep di belakangnya. Bagaimana sejak tahun 1999 muncul, berproses sampai hari ini beregenerasi. Hakikat pameran ini adalah harapan agar setiap dialog terus terjaga. Perbincangan antara senior dan yang muda, kecepatan dengan kehati-hatian dan banyak lagi. Melalui itulah komunitas dapat bertahan serta terus tumbuh berkembang,” tandas Mieke.

Gandung Pardiman, tokoh masyarakat Imogiri, menyatakan dukungan pada pameran yang digelar seniman asal Bantul ini. Ia berharap seni bisa menjadi profesi yang menghidupi bagi Paguyuban Sidji, tak hanya menyalurkan hobi semata.

“Saya mendorong ekspresi konkret dari pelaku seni di DIY. Tentu karya mereka mewarnai Jogja sebagai Kota Seniman yang eksis dalam situasi apapun. Semoga ini tak sebagai hobi saja tapi muncul sebagai profesi, tak sekedar hobi tapi kehidupan,” pungkas Gandung. (Fxh)

Kredit

Bagikan