Bakal Digelar di Perdesaan, Pekan Budaya Difabel 2022 Usung Tema 'Ngayomi Ngayemi'

user
Danar W 27 November 2022, 18:10 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Pekan Budaya Difabel kembali hadir dengan mengangkat tema 'Ngayomi Ngayemi'. Acara ini bakal digelar selama 6 hari, mulai tanggal 28 November hingga 3 Desember 2022.

Berbeda dari lokasi perhelatan di tahun – tahun sebelumnya, Pekan Budaya Difabel tahun 2022 bakal menepi ke wilayah pedesaan, yaitu di Desa Wisata Kebon Agung, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Merunut dari tema tahun 2020, yaitu Pancarona sebagai satu keinginan untuk tetap bisa memberi warna hidup meski dalam keadaan sulit akibat ditempa pandemi. Dilanjutkan di 2021 yang masih menjadi tahun-tahun berat akibat pandemi, muncul rasa 'gemati' sebagai tema, salah satu tujuannya adalah agar kita semua tetap bisa peduli dan memiliki sikap pengertian tulus terhadap sesama, apapun keadaannya.

Berangkat dari tema pada tahun 2020 dan 2021 tersebut, maka kata 'Ngayomi Ngayemi' dipantik sebagai tema Pekan Budaya Difabel 2022 kali ini. Ia terpagut dari kata dasar berbahasa jawa 'ayom dan ayem' yang memiliki padanan kata ‘berlindung’ dan ‘berbahagia’.

Dalam jumpa pers yang diadakan di Pendhapa Kundha Kabudayaan DIY pada hari Sabtu tanggal 26 November 2022, M Arif Wijayanto atau yang lebih akrab dipanggil Broto Wijayanto selaku Ketua Panitia sekaligus Pimpinan Produksi menyatakan bahwa alasan dipilihnya Desa Wisata Kebon Agung Imogiri ini bukan saja sebatas hendak menggaungkan geliat wisata perdesaan dengan alamnya yang masih asri dan dilengkapi dengan spot wisata Bendung Tegal serta kuliner khas mie-ayamnya.

Lebih dari itu, adalah juga karena ada keinginan untuk sejenak menggeser kepedulian terhadap kawan-kawan difabel di wilayah perdesaan, yang artinya kita juga harus hadir di tengah- tengahnya, apalagi Imogiri menjadi kawasan yang beberapa warganya merupakan penyandang disabilitas akibat gempa 2006 silam.

Selanjutnya mengenai tema 'Ngayomi Ngayemi' ini Broto juga menuturkan bahwa itu terpikirkan dari keberadaan daun dan pohon pisan yang banyak tumbuh di desa.

“Karena di lingkungan perdesaan terdapat banyak pohon pisang, maka helatan inipun berangkat dari sana. Bahwa dengan pohon pisang kita bisa berlindung memayungi diri. Di samping itu, dengan daun pisang juga kita bisa menjadi ayem karena bisa terhidang banyak makanan lezat. Tak lain karena banyak kudapan enak yang membuatnya adalah dengan daun pisang; ada tempe, nagasari, lemper, dan makanan lainnya,” tutur Broto Wijayanto.

Sementara itu Kepala Seksi Seni Dinas Kebudayaan DIY, Drs. Aryanto Hendro Suprantoro menuturkan bahwa ketika berbicara perihal kebudayaan secara inklusi, artinya kita juga harus berpikir mengenai keberadaan sekaligus peran aktif kawan-kawan difabel, bukan sebatas subyek tapi juga obyek. Imogiri adalah salah satu lokasi yang tepat.

“Jika kebanyakan daerah di provinsi lain hanya sebatas menyelenggarakan Pekan Olah Raga, maka ada hal yang patut kita banggakan di sini, yaitu kita juga memiliki Pekan Difabel yang sudah rutin kita selenggarakan setiap tahun. Sementara itu dengan kita merapat di desa, secara tidak langsung kitapun akan bisa saling sharing kebudayaan, termasuk bisa memahami budaya serta kebutuhan teman-teman difabel,” ungkap Bapak Hendro.

Pekan Budaya Difabel berawal dari sebuah kegiatan bernama Jambore Difabel pada 2016 silam didukung oleh Kundha Kabudayaan DIY. Kemudian pada tahun 2019 kegiatan tersebut bermetamorfosa menjadi Pekan Budaya Difabel yang dikemas dalam beberapa program acara diantaranya Pameran, Workshop, Pertunjuan, dan Operet Inklusi.(KN)

Kredit

Bagikan