Angkat Isu Lingkungan, Dosen dan Mahasiswa PBI UMY Pentas Budaya Hingga Kalkota India

user
Ivan Aditya 03 Desember 2022, 20:36 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Dosen Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan dua mahasiswa turut berpastisiapsi dalam program Reimagine and Reconnect : Indo-Pacific synergies through the lens of culture yang diselenggarakan Asian Confluence dan Consulate General America di Kolkata India, 21-22 November 2022. Kegiatan berbalut budaya iniini diikuti sembilan negara yang sebelumnya telah lolos seleksi proposal tahun 2021.

Dosen PBI UMY, Puthut Ardianto SPd MPd mengatakn dirinya menulis proposal untuk ikut kegiatan ini sudah sejak akhir 2021 akhir. Pada April 2022 ia lalu mendapat email dari Consulate General Amerika di Kolkata yang menyatakan jika proposalnya diterima. "Kegiatan ini sepenuhnya disponsori Asian Confluence dan Consulate General Amerika di Kolkata India," terang Puthut Ardianto.

Puthut Ardianto yang kesehariannya memang aktif di Asosiasi Eco-Printer Indonesia (AEPI) sebagai ketua umum dan dosen tetap di Prodi PBI UMY, memang memiliki ketertarikan di bidang seni dan budaya. Dalam even ini ia menggandeng dua mahasiswa yakni Duhita Kalyana Diwyacitta dan Muhammad Zacky Hidayat.

Di Kalkota Puthut Ardianto bersama mahasiswanya tampil dalam pentas berjudul 'Renja Dewangga : an eco-fashion and cultural walk'. Pementasan ini disutradari langsung Puthut Ardianto. Selain tiga delegasi dari Indonesia, pementasan ini juga menampilkan seniman dari Inda yakni Sriradha Paul, Sameek Ghosh, dan Devasish Pradhan.

"Renja dalam bahasa Latin berarti daun, Dewangga dalam bahasa Sansekerta bisa diartikan kain yang indah. Pertunjukan ini merupakan kombinasi antara tembang Macapat, tari klasik gaya Yogyakarta, dan parade eco-fashion," ungkap Puthut Ardianto.

Awal penampilan, Puthut Ardianto membawakan Macapat Pangkur yang telah digubah dalam bahasa Inggris. Selanjutnya Puthut Ardianto memainkan dua tokoh wayang Rama dan Sinta dengan membawakan dialog menyikapi isu-isu lingkungan yang sempat terjadi di Indonesia, terutama maraknya trend fast fashion di kalangan masyarakat dan ketidakpedulian akan limbah fesyen yang dihasilkan.

Dialog antara Rama dan Sinta ditutup dengan sekar Macapat Dhandanggula yang mengawali digaungkannya kampanye #slowfashionmovement dengan parade yang dibawakan penampil dari India dengan mengenakan busana konsep slow fashion dengan teknik eco-printing.

"Saya merasa sangat bangga bisa mengenakan Saree yang mana itu adalah pakaian khas India, namun terbuat dari bahan-bahan ramah lingkungan (biodegradable) dan motif yang dihasilkan dari tanaman atau bunga yang ada di sekitar kita," ucap Sriradha Paul asal India, salah satu penampil parade eco-fashion.

Salah satu tema yang diambil Puthut Ardianto dalam konferensi ini adalah Environment and Ecology. Yaitu bagaimana isu-isu lingkungan saat ini dipresentasikan dalam pementasan budaya yang kemudian dibahas para praktisi dan akademisi yang ahli di bidangnya.

Konferensi ini juga mendatangkan 40 pembicara, 75 penari dan pemusik dari negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Filipina, Vietnam, Bangladesh, Bhutan, Nepal, dan Amerika Serikat.

"Saya percaya, mengajar adalah sebuah seni pertunjukan, ruang kelas merupakan panggung untuk guru dan siswa mengaplikasikan skenario pembelajaran," tambah Puthut Ardianto yang bulan lalu sukses menggelar AEPI Fashion Festival 2022 yang diikuti perancang busana ecoprint dari berbagai daerah di Indonesia.

Duhita, salah satu penari dari program studi PBI UMY menyatakan, dirinya merasa beruntung bisa berada di tengah para seniman, pemusik, akademisi, dan praktisi yang peduli isu-isu global saat ini. Sedangkan Muhammad Zacky Hidayat menuturkan bahwa konferensi seperti ini sangat unik. (*)

Kredit

Bagikan