4 Langkah Bikin Puisi Bagus Menurut Joko Pinurbo

INDUSTRI kata-kata saat ini sedang berkembang pesat, memiliki banyak penikmat dan nilai jual. Puisi khususnya, kian menyentuh hati berbagai segmen masyarakat.

Bukan sekadar menikmati, namun juga mencipta puisi, istilahnya penyair. Terlebih di era digital sekarang, seseorang dapat dengan mudah mempublikasikan puisinya lewat sosial media.

Untuk membantu penyair pemula mengolah karya dan meningkatkan kemampuannya, Patjar Merah mengadakan Lokakarya Penulisan Kreatif – Berpuisi dan mengundang penyair senior Indonesia, Joko Pinurbo.

Dalam lokakarya ini, Jokpin, sapaan akrabnya, mengajak peserta untuk berlatih menulis puisi dengan membedah puisi bersama. Seni berpuisi, menurut Jokpin terdiri dari 25 persen menulis draft dan 75 persen menyunting. Tahap menyunting dapat memakan waktu yang lama, namun  di sinilah proses untuk menghasilkan karya puisi yang maksimal dan layak.

Tahap pertama terkait dengan mencari ide dan menulis draft puisi. Pada tahap ini, penyair harus banyak membaca referensi puisi penyair lain. Kata apapun yang terlintas baiknya langsung dituliskan agar tidak hilang dari kepala.

Tahap berikutnya adalah menyunting puisi. Tidak menutup kemungkinan puisi dapat beralih konteks dalam penyuntingan. Ada empat langkah yang harus dilalui sebuah puisi untuk menjadi sebuah karya yang final.

1. Mengefesiensikan kata

Pemborosan kata akan mengurangi keindahan puisi. Pemilihan kata harus selektif. 

Penyair harus rela dan tega menyingkirkan kata-kata, meskipun dirasa indah. Di sini, penyair harus peka memilih mana kata yang harus disingkirkan atau dipertahankan.

Kata yang disingkirkan dapat disimpan untuk kemudian dikembangkan menjadi puisi baru.

Contoh : Di antara dua belah bibirmu, ada celah kecil

Penggalan puisi ini diefektifkan menjadi: Di celah bibirmu, tanpa mengurangi makna puisi.

2. Mengganti diksi yang mengunci makna puisi

Pemilihan diksi dalam puisi adalah hal yang sangat krusial dan menjadi penentu nilai kedahsyatan sebuah puisi. Diksi yang baik adalah yang memiliki tafsir luas.

Pembaca dapat memvisualisasi puisi dalam imajinasinya. Gunakan diksi yang tidak membuat  puisi bermakna tunggal karena pembaca tidak dapat memaknai dan menikmati puisi dari sudut pandangnya. Contoh : Kau menghadap depan, aku menghadap belakang

Kata depan dan belakang dapat diganti menjadi Kanan dan Kiri atau Barat dan Timur. Maka pembaca akan memaknainya dengan beragam.

Kanan dan Kiri atau Barat Timur dapat bermakna ideologi, gaya hidup, dan lainnya. Penyair dapat menggunakan KBBI online untuk mencari diksi yang tepat.

3. Harmonisasi

Puisi adalah bunyi dan permainan bunyi. Terkadang kekuatan dari puisi bukan terletak pada maknanya, namun pada bunyi dari diksi yang dimilikinya.

Untuk menciptakan puisi dengan bunyi indah penyair harus mencari kata ganti atau sinonim yang berkaitan dan seirama dengan kata lain di dalam puisi, tanpa mengubah maknanya.

Contoh : Tawamu adalah candu

Kata ‘tawa’ dapat diganti dengan ‘canda’ yang berkaitan dengan ‘tawa’ sekaligus seirama dengan ‘candu’. Maka, puisi akan berbunyi ‘Candamu adalah candu’

4. Koherensi

Ketika membuat puisi dalam bentuk bait, keterkaitan  antar bait harus dijaga. Kalimat dapat ditukartempatkan untuk menjaga koherensi puisi.

Tidak jarang puisi tidak mengandung koherensi antara satu bait dengan bait lainnya. Hal ini akan mengacaukan makna dan kisah di balik puisi. Maka, penyair harus membuat kerangka yang jelas dan saling berhubungan.

Untuk menjadi penyair yang layak, keempat tahap tersebut memang harus dikerjakan. “Jadi penyair itu berat, biar aku saja,” kelakar Jokpin.

Seorang penyair harus sabar dalam berposes mencipta puisi. Jangan menjual puisi yang jelek, karena akan mempengaruhi minat pembaca atas puisi, pesan Jokpin. (Garin Essyad Aulia)

 

 

BERITA REKOMENDASI