52 Pematung ‘Serbu’ Kotabaru, Jogjatopia Digelar

YOGYA, KRJOGJA.com – Event dua tahunan bertajuk Jogja Street Sculpture Project (JSSP) kembali digelar 10 Oktober 2017 mengambil tajuk "Jogjatopia". 52 pematung dari Yogyakarta, Jakarta, Bali, Bandung hingga luar negeri seperti Jepang, Thailand dan India bersiap menyerbu lokasi-lokasi strategis yang ada di kawasan Kotabaru. 

Ketua Asosiasi Pematung Indonesia Hedi Hariyanto dalam temu pers di Museum Sonobudoyo Rabu (13/9/2017) mengungkap pemilihan Kotabaru sebagai kawasan eksplorasi didasarkan pada isu pembangunan perkotaan di mana selama ini daerah tersebut dirasa sangat tepat dijadikan contoh. Menurut dia, JSSP hadir sebagai bentuk ekspresi budaya kreatif yang mendukung terciptanya ruang publik ramah dan berbudaya bagi sebuah kota. 

"Saat ini 57 pematung sudah mengerjakan karya dan tak sampai satu bulan lagi sudah didisplay di kawasan Kotabaru. Kami mengambil tema Jogjatopia dan Kotabaru sebagai lokasi karena di wilayah ini sejarah pernah berbicara juga munculnya interpretasi bahwa Kotabaru adalah cerminan kota ideal untuk Yogyakarta," ungkapnya. 

Berbagai karya instalasi bakal menghiasi lebih dari 52 titik kawasan Kotabaru yang seluruhnya dikerjakan sebagai respon akan tema dan kawasan Kotabaru. "Karya-karya dalam bentuk maket sudah bisa disaksikan di Museum Sonobudoyo 2 mulai 14-20 September 2017," sambungnya. 

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono yang hadir dalam sesi temu pers menambahkan karya patung yang dipamerkan merupakan sebuah terobosan dan inovasi yang sebelumnya belum pernah ada. Karya seni instalasi para seniman ini diharap Umar bisa menjadi stimulus bagi masyarakat untuk berkreasi. 

"Kalau dulu pejuang yang menyerang Kotabaru maka sekarang pematung yang menyerang, dengan karya seninya tapi. Kami berharap karya orisinil yang memang tumbuh dari sebuah inovasi ini bisa memberi stimulus masyarakat bahwa kreasi bisa diwujudkan," ungkapnya. 

Salah satu seniman, Basrizal Albara mengaku sangat antusias mengikuti JSSP 2017 meski harus merogoh kocek cukup dalam lantaran subsidi Pemda DIY belum cukup untuk memproduksi karya dengan total berat hingga 9 ton. "Saya ingin ikut mewujudkan ruang publik yang ramah dengan merespon kawasan Kotabaru, yang sebenarnya dulu dibuat untuk warga Kolonial bukan Pribumi," terangnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI