Ada Magis di Kumpulan Cerpen “Garis Tepi” Aya, Penasaran?

Editor: KRjogja/Gus

ADA pendapat yang berseliweran tentang seni. Seni harus dilihat sebagai "seni" saja, utuh, tanpa melihat siapa yang membuat. Kelebat kedua, melihat karya seni juga harus melihat siapa yang membuat, dari perilaku sampai pribadi si pembuat. Ragam pandangan ditangkap Mutayasaroh lewat kumpulan cerpen berjudul "Garis Tepi" yang rilisnya baru-baru ini. Setebal 102 halaman, Aya, sapaan akrab penulis yang kerap melahirkan karya tulis komunal ini secara magis melucutinya.

"Banyak yang bilang kalau kumpulan cerpen perdana saya sebagai individu ini cocok dibaca untuk teman-teman yang berprofesi sebagai pegiat media, seni, dan pemerhati budaya dan sosial. Seni, tokoh dalam salah satu cerpen berjudul "Ini adalah Mantra" mengalami pergolakkan psikologis. Dia (tokoh) punya bakat besar di lukis. Persoalannya adalah kondisi limgkungan belum bisa menerima imajinasinya. Dia perang lawan pendapat masyarakat dengan ideologinya. Kalau dia berhasil di sini seharusnya dia keluar dari Indonesia karena di negara ini seni belum bisa dilihat secara utuh," bebernya ketika ngobrol santai di sebuah cafe bilangan Jalan Kaliurang.

Dalam realita kekinian, tema yang diusung Aya dalam kumpulan cerpennya tidak populer. Penulis manis kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, ini memilih menerbitkan karya secara mandiri ketimbang harus melalui banyak sensor dari penerbit-penerbit besar yang meletakkan bisnis di atas kualitas karya. Indie bukan sekadar label bagi Aya karena tak hanya isi, artwork cover dan ilustrasi di dalam kumpulan cerpennya ini dibuatnya sendiri.

"Saat ini saya enggak bisa ramah dengan karya populer. Bukan berarti novel atau kumpulan cerpen yang populer itu tidak berkualitas, tapi passion kami saja yang berbeda. Kalau buku ini ketemu sama karya berjenis sama yang populer maka kalah (tema). Inilah yang bikin saya memutuskan menerbitkannya secara indie. Untuk menghindari pemotongan di sana-sini. Akhirnya semua saya kerjakan sendiri mulai dari isi sampai artwork sampul dan ilustrasi," sambung penulis yang sudah melahirkan empat karya komunal berupa kumpulan puisi dan cerpen itu.

Ada proses panjang yang membuatnya memilih tema yang cenderung sensitif ini dalam kumpulan cerpen. Usai lulus dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY, Aya banyak bertemu lalu berdiskusi dengan para pegiat seni dan media. Tahun 2015 ia bahkan sempat mencicipi dunia jurnalistik populer sebelum kembali menggali karyanya yang nyaris terlupakan sejak 2014. Usai keluar dari tempat kerjanya, barulah kumpulan cerpen ini kembali ditimangnya.

"Sebenarnya bikinnya ("Garis Tepi) random. Ada yang dari 2014, 2016, dan 2017. Dikumpulin jadi satu tahun 2018. Temanya sebenarnya beda-beda. Judulnya "Garis tepi" karena masing-masing punya benang merah yang sama. Konfliknya punya satu kesamaan. Masing-masing tokoh unya dilema tersendiri, konflik pribadi dibenturkan dengan konflik sosial dan bagaimana dia bisa konsisten dengan dirinya sendiri," cerita Aya.

Aya dan Stileto Book, penerbit Indie yang memproduksi "Garis Tepi" tak hanya mencetak fisik kumpulan cerpen yang cocok dibaca bagi mereka yang berusia 18 tahun ke atas ini. Mereka juga juga menyebarluaskan dalam bentuk digital ke platform baca Google Books. "Harapannya sederhana saja agar bisa dibaca juga sama penikmat buku digital dan semoga apa yang saya tuliskan di sini bisa merapikan pikiran pembaca. Warning-nya cuma satu, ada sifat magis di dalamnya," tutup Aya. (Des)

BERITA REKOMENDASI