Banyak Karya Rama Sas Mendapat Kritikan

YOGYA, KRJOGJA,com – Banyak karya KRT Sasmintadipura atau Rama Sas (alm) yang banyak dikritik setelah dibuat. Rama Sas memang tak sedikit berkreasi, membuat karya baru dengan pijakan tari klasik gaya Yogyakarta.

"Menghadapi kritikan tersebut, Rama Sas memilih diam karena tahu nanti akan banyak yang mengikuti kreasinya," kata Nyi KRT Sutiyah Dwija Sasmintamurti, istri Rama Sas, di Dalem Pujokusuman, Yogyakarta, Jumat (12/4/2017).

Di antara karya Rama Sas berupa fragmen yang menggunakan tembang sebagai dialog. Itu pun mendapat kritik. Tapi Rama Sas berpendapat, dialog menggunakan tembang akan lebih tak membosankan sehingga karya-karyanya terus mengalir.

Salah satu fragmen karya Rama Sas, yakni 'Jaka Tarub-Nawangwulan' akan ditampilkan pada perayaan empat tahun Jogedan Selasa Legen di Dalem Pujokusuman, Selasa (16/5/2017) malam. Fragmen yang saat dibuat tahun 1960-an ini, kata Sutiyah, juga sempat mendapat kritikan karena mengangkat cerita rakyat dari 'Babad Tanah Jawa' sementara di Yogyakarta sendiri banyak sumber yang bisa menjadi inspirasi karya.

Pada Jogedan Selasa Legen', fragmen 'Jaka Tarub-Nawangwulan' dibawakan penari lintas generasi, usia 17 tahun hingga 53 tahun. Jaka Tarub dibawakan putra tunggal Rama Sas, Ali Nur Sotya, sedang Nawangwulan dibawakan istrinya, Heni Pujiastuti.

Koordinator Jogedan Selasa Legen, Istu Noorhayati, menyebutkan, Rama Sas merupakan tokoh tari gaya Yogyakarta yang mendirikan Pamulangan Beksa Ngayogyakarta pada 1964 dan kini menjadi Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa. Oleh murid-muridnya, sejak empat tahun lalu, setiap hari Rama Sas yakni Selasa Legi digelar kegiatan menari bersama yang disebut Jogedan Selasa Legen yang dihadiri 70 hingga 100 penari. Kegiatan selalu diawali bersama membawakan Tari 'Renggamataya' oleh penari putra maupun putri. Setelah itu ditampilkan tari lain yang juga karya Rama Sas.

Selain 'Jaka Tarub-Nawang Wulan' juga ditampilkan karya Rama Sas yang lain, yakni Tari 'Golek Ayun-ayun' oleh 20-an penari senior, 'Klana Topeng Gunungsari' oleh Dr Bambang Pudjasworo, dan Beksan 'Dhandhun Wacana-Wijasena' oleh RM Mario Niskendaru Rudianto dan RM Widaru Krefiyanto.

Seluruh yang ditampilkan pada Jogedan Selasa Legen merupakan karya KRT Sasmintadipura atau Rama Sas (alm), pendiri Pamulangan Beksa Ngayogyakarta yang kini menjadi Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM).

Menurut Lantip Kuswaladaya, salah satu pegiat Jogedan Selasa Legen, 'Jaka Tarub-Nawangwulan' merupakan love dance karya Rama Sas yang bersumber cerita kerakyatan dengan pijakan tari klasik gaya Yogyakarta pada 1960-an. Fragmen tersebut dibawakan para guru YPBSM dan penari yang memiliki perhatian kepada Jogedan Selasa Legen.

Tarian lain, menurut Nyi KRT Sutiyah Dwija Sasmintamurti, istri Rama Sas yang kini memimpin YPBSM, juga dibawakan penari senior dan matang. Misalnya, Dr Bambang Pudjasworo, Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang membawakan 'Klana Topeng Gunungsari'.

"Tari 'Renggamataya' tetap disajikan di awal acara. Yang mutri kalau bisa putri dengan dresscode kebaya merah jambu, yang putra dengan surjan," tutur Istu. (Ewp)

BERITA REKOMENDASI