Belajar Membatik, Ide Mahasiswa Asing Ini Luar Biasa

JOHN tidak dapat menyembunyikan rasa gembiranya. Begitu kain batik dibuka, sontak dia langsung melompat sambil teriak kegirangan. Meski hanya satu warna, namun itu adalah warna favorit pria asal Uganda ini.

Ya, meski baru sekali membuat batik jumput. Tapi hasil akhirnya terbilang rapi. Saat proses pewarnaan, dia memang sengaja hanya memilih warna tunggal. Biru. Itulah warna kesukaan pria bernama lengkap John Baptist tersebut. Dia ingin menjadikan kain itu menjadi sebuah kaos.

“Biru adalah warna favorit saya. Kain ini akan saya jadikan kaos,” katanya kepada KRjogja.com, Minggu (6/11). Meski di negaranya Uganda , dia mengaku tidak sulit membuat batik jumput. Apalagi proses pewarnaannya tinggal mencelupkan saja.

Ekspresi sedikit berbeda ditunjukkan Girmaw Ashebir Sinshaw. Demi rasa cinta kepada negaranya, dia ingin batik dengan tiga warna. Hijau, Kuning dan Merah secara horisontal sesuai dengan urutan warna bendera negaranya, Ethiopia. Sayang, saat dia buka hanya Hijau dan Kuning saja yang horisontal. Sedangkan merah vertikal.

Meski sedikit kecewa, mahasiswa Mahasiswa program Kemitraan Negara Berkembang (KNB) ini tetap berbangga. Karena itu adalah hasil karya dia sendiri. “Saya masih ada satu kain lagi yang saya lipat bentuk segitiga. Akan saya celup di warna yang sama. Mudah-mudahan hasilnya lebih bagus,” ujar pria yang baru dua bulan tinggal di Yogyakarta ini.

John dan Girmaw merupakan dua dari 15 mahasiswa asing yang sedang belajar budaya dan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka berasal dari 12 negara, seperti India, Hungaria, Kamboja dan Bangladesh. Beberapa budaya yang telah mereka pelajari, seperti batik tulis hingga kesenian tradisional.

Jika biasanya mereka belajar di kampus, kali ini mereka diajak berinteraksi langsung dengan orang Indonesia dalam hal ini ibu-ibu di Desa Purwomartani Kecamatan Kalasan Sleman.

“Dengan bertemu langsung dengan masyarakat, maka mereka juga mempraktekkan Bahasa Indonesia. Apalagi dengan ibu-ibu. Ini sangat bagus untuk proses pembelajaran mereka,” kata Ari Kusmiyatun, selaku dosen Bahasa Indonesia di UNY.

Mereka adalah mahasiswa program Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan Darma Siswa. Rata-rata mereka tinggal di Indonesia, antara enam bulan hingga tiga tahun. Batik memang sengaja dipilih, karena mereka terlihat sangat tertarik dan penasaran. Bahkan bebera diantaranya sudah berencana menjadikannya kain batik jumput ini menjadi baju. (Atiek Widyastuti H)

BERITA REKOMENDASI