Biennale Jogja Equator #6 Ditutup, Dinikmati 1,5 Juta Orang Melalui Medsos

Editor: Ary B Prass

YOGYA, KRJOGJA.com – Biennale Jogja Equator #6 resmi ditutup setelah 40 hari diselenggarakan di empat lokasi yaitu di Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Museum dan Tanah Liat (MdTl), dan Indieart House. Meneruskan tradisi, dalam acara penutupannya Yayasan Biennale Yogyakarta memberikan penghargaan Lifetime Achievement Award (Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup) kepada mereka yang sudah sangat diakui dalam bidangnya namun acap terlupakan dan tak diberi penghargaan atau apresiasi yang layak. Penghargaan kali ini jatuh kepada Nunung WS dan Hermanu.

Lifetime Achievement Award/LAA merupakan penghargaan untuk menghargai figur-figur yang dianggap berkontribusi penting dalam pembentukan wacana seni dan pengembangan ekosistem seni di Yogyakarta secara khusus, dan Indonesia secara umum.

“Para Dewan Pembina dan Pengawas Yayasan Biennale Yogyakarta, dengan berbagai pertimbangan, seperti dedikasi, loyalitas, integritas, dan kontribusi praktik kesenian setiap figur untuk pembentukan ekosistem seni di Indonesia dan lebih khusus lagi di Yogyakarta, pada akhirnya memberikan Lifetime Achievement Award kepada Nunung WS dan Hermanu,” ujar Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika.

Nunung WS (Wahid Sahab), merupakan seorang perupa abstrak perempuan Indonesia. Dia lahir di Lawang, Jawa Timur, pada 9 Juli 1948. Sampai di usianya yang ke-73 tahun, Nunung masih aktif berpameran, baik di dalam maupun luar negeri. Terakhir, ia menjadi bagian dalam pameran seniman perempuan di museum bergengsi, Mori Art Museum di Tokyo, Jepang. Ia telah menunjukkan keteguhan dalam berkarya meskipun jauh dari spotlite dan ingar-bingar ketokohan dalam seni rupa. Meski demikian ia masih terus menjalankan panggilan hidupnya sebagai seorang seniman.

Alia juga menunjukkan bagaimana Hermanu menggerakan ekosistem seni di Indonesia mulai akhir 1980-an hingga sekarang dengan praktik kerjanya di Bentara Budaya Yogyakarta. Kerja-kerja kuratorialnya bisa menunjuk pada semangat dekolonisasi praktik seni, yang tidak selalu berpijak pada pengetahuan Barat, tetapi mengembangkan wacana yang berbasis pada tradisi dan pengetahuan lokal.

Biennale tahun ini diisi dengan 99 program untuk pameran, hal ini meluas dari 70 program yang semula dirancang. Dalam laporannya Direktur Biennale Jogja #6 Gintani Nur Apresia Swastika menjelaskan bahwa selama 40 hari Biennale Jogja XVI telah dinikmati oleh kurang lebih 1.5 juta orang melalui media sosial, 236.210 melalui website, dan 14.590 melalui kunjungan langsung di 4 lokasi. Selain itu, kegiatan ini terpublikasi di 165 portal media daring, 25 media cetak, dan 15 media elektronik, baik lokal, nasional, maupun internasional.

“Dalam 40 hari itu, kami berupaya maksimal agar penyelenggaraan program dapat menjadi media untuk transfer pengetahuan dan gagasan, baik dari sisi kuratorial maupun dari seniman yang melakukan aktivasi karyanya,” ujar Gintani.

 

BERITA REKOMENDASI