Bocah Ini Emban Estafet Tradisi Keluarga

LAHIR dan tumbuh di keluarga seniman besar nan legendaris membawa konsekuensi mendalam bagi seorang Giank Bayu Tetuko. Pasalnya, meski berada di generasi keempat keluarga seniman Gito-Gati, Giank seperti memiliki kewajiban melestarikan tradisi leluhurnya nguri-uri seni budaya.

"Merasa ada panggilan yang harus saya penuhi. Secara khusus, orangtua dan lingkungan ikut berperan membentuk pribadi saya dalam berkesenian," tutur cicit Ki Sugati 'Gita-Gati' sela pentas wayang kulit pakeliran padat di Balai Desa Caturharjo Sleman, Kamis (18/8/2016).

Secara khusus lanjut siswa kelas VIII SMPN 4 Tempel Sleman tersebut, ia tidak pernah belajar berkesenian di lembaga seni budaya baik formal dan nonformal. Tapi ia digembleng khusus eyang-eyangnya, khususnya eyangnya sendiri Ki Bayu Sugati untuk olah pakeliran pewayangan.

"Kebetulan simbah-simbah semua seniman. Pakde, paklik hingga kakak adik juga rata-rata terjun di dunia seni. Tidak sulit untuk ikut ambil bagian melestarikan seni budaya," jelas Giank.

Dengan berkesenian ia merasa pribadi dan karakternya kian terbentuk. Terutama dalam keseharian ketika dihadapkan pada orang yang lebih tua. Unggah-ungguh, sopan santun dan tata krama wajib ia junjung dan kedepankan.

Sedang Ki Bayu Sugati menjelaskan cucunya tersebut sejak awal memang sudah diarahkan untuk ikut meneruskan tradisi berkesenian di keluarga. Dengan begitu seluruh keluarga juga aktif mendorong anggota keluarga yang lain untuk mendarmabaktikan hidup demi keberlangsungan seni budaya ke depan.

"Harapannya banyak anak seusia Giank yang tergerak untuk berkesenian. Tentu dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting dan berpengaruh untuk mewujudkan harapan tersebut," ungkap Bayu Sugati. (M-5)

BERITA REKOMENDASI