‘Body in Between’ Kolaborasikan Unsur Dunia Nyata dan Maya

Editor: KRjogja/Gus

MANUSIA masa kini sudah kerasukan roh baru, yakni internet melalui perantara berbagai perangkat. Sangat bergantung pada roh baru tersebut, tubuh menjadi hiperaktif dengan dunia simulasi yang campuraduk antara nyata dan maya. Roh baru internet ini mengontrol tubuh, sekaligus menjadi media baru dalam berinteraksi dengan dunia masa kini di jaman cyberspace.

Berbagai pengalaman hidup di 'cyberspace' inilah yang dinyatakan dalam 'Body in Between', sebuah pertunjukan teater tari Realitas Teleholografis memadukan dunia nyata dan maya melalui aplikasi teknologi internet, digital dan Pepper Ghost. Tarian karya salah satu maestro tari Yogyakarta, Martinus Miroto ini akan tampil dalam Pekan Seni Media di Bandung pada 18 November mendatang.

"Tontonan ini memberikan pengalaman visual di antara seni pertunjukan dan film. Sebuah format pertunjukan hibrida yang mencampurkan ruang nyata dan maya. Karya ini sekaligus menandai jaman 'cyberspace', bahwa berinteraksi secara virtual merupakan hal yang biasa," tutur Miroto yang juga bertindak selaku sutradara dan koreografer kepada KR di sela latihan di Studio Banjarmili, Minggu (13/11) malam.

Melalui pementasan ini, tidak semua harus berada dalam satu panggung. Berkat kecanggihan teknologi, jarak bukan lagi persoalan. Karena dari tempat yang berjauhan pun semua bisa dilakukan dengan baik dan selaras.

Pemain yang hadir di panggung berada di Tokyo (Ikko Suzuki), New York (Kyla Barkin) dan Taipei  (Yutsen Liu) dalam wujud  teleholografis (3D). Mereka berinteraksi dengan pemain nyata (Marshalina dkk) dalam ruang yang berbeda namun dalam waktu yang sama. Karya ini tentu menjadi terobosan luar biasa memanfaatkan kemajuan globalisasi tanpa harus menghilangkan akar budaya dalam dunia tari. (R-7)

 

 

BERITA REKOMENDASI