Dalam Bentuk Baru, Ritus Lampah Lemah Digelar

DINAS Kebudayaan DIY akan menggelar pentas Teater Tari Gandrung Manis Ritus Lampah Lemah dengan koreografer Setyastuti di nDalem Pugeran Brongtokusuman (belakang Museum Perjuangan) Jalan Kolonel Sugiyono Yogyakarta, Kamis (4/5/2017) pukul 19.30 WIB.

Menurut Kepala Seksi Seni Kontemporer Disbud DIY Dra Y Eni Lestari Rahayu kepada wartawan di Pendhapa Art Space Jalan Ring Road Selatan, Jumat (28/4/2017), kegiatan ini sudah direncanakan sejak dua tahun lalu, tapi baru lolos pada tahun anggaran 2017. "Saatnya kami harus mempertahankan seni kontemporer yang ada di Yogya," katanya.

Gandrung Manis menurut Eni, identik dengan bedhaya ciptaan Sri Sultan HB VII. Tapi bukan hal itu yang dimaksudkan dalam pementasan ini nantinya. "Bahasa kami, Gandrung Manis sesuatu yang indah, mengolaborasikan berbagai macam cabang seni, yaitu musik, tari, teater, video mapping dan tidak harus berpijak pada klasik. Tempat pentas pun tidak di panggung, karena konsepnya memang di outdoor," imbuhnya.
 
Prof Dr Suminto A Suyuti dan Djadug Ferianto sebagai supervisor Teater Tari Gandrung Manis Ritus Lampah Lemah mengapresiasi langkah Disbud DIY, karena ini merupakan sejarah pertama Disbud DIY memberikan ruang bagi seni kontemporer.

"Gandrung Manis sebagai salah satu tari bedaya pada zaman Sri Sultan HB VII, dalam pentas ini hanya diambil spiritnya," kata Suminto.

Menurutnya, Ritus Lampah Lemah sebenarnya merupakan sebuah pewacanaan ideologis. Di sisi lain, Suminto menegaskan, sebenarnya proyek ini ingin mengabarkan bahwa Yogya tidak identik dan tidak harus selalu identik dengan klasik. Yogya itu sesuatu yang terbuka, Yogya adalah sebuah situs, sebuah gelanggang tempat bertemunya berbaga ideologi artistik, estetik, saling berseteru, memusuhi, menindas tapi pada akhirnya berangkulan dan bergandengan tangan untuk mewujudkan keyogyaannya.

Hal senada juga dikatakan Djadug Ferianto, yang menyebut baru pertama kali ini Disbud DIY menggulirkan satu forum bernama Gandrung Manis. "Harus kita sambut baik, karena dalam konteks Danais, seni pertunjukan yang punya karakter kontemporer sedikit dianaktirikan," katanya.

Sedangkan Setyastuti mengatakan, Gandrung Manis Laku Lampah Lemah yang berdurasi satu jam ini melibatkan sekitar 100 pemain terdiri penari, pemusik, DJ, visual art. Konsepnya seperti mozaik, karena pentas ini merupakan hasil kolaborasi dengan seniman berikut kelebihan masing-masing.

Mengenai tema tanah liat, menurut Setyastuti, tanah liat memang sangat kuat sekali dijadikan tema. "Saya memakai tanah liat karena unsur kelembutannya dan bisa dibentuk menjadi sesuatu menurut imajinasi kreator," katanya.(R-7)

 

BERITA REKOMENDASI