D’Art Management Terabas Batas Lewat Pameran ‘No Boundaries’

Editor: Ary B Prass

PERSOALAN jarak bagi sebagian orang bukan perkara penting. Jarak tidak menakutkan, kata sebagian pihak, diikuti frasa-frasa puitik.

Namun, cobalah tanyakan arti jarak bagi para pengungsi perang Kosovo yang menempuh ratusan kilomenter menuju Serbia dengan berjalan kaki.

Tiap tapak di tanah basah penuh darah itu diikuti ingatan akan kemalangan. Tentang rumah dan tanah yang dirampas. Kehidupan yang dipampas.

Atau tanyakan pada Wilhelm Pieck. Betapa menakutkannya jarak sehingga ia membangun beton sepanjang 40 kilometer.

Sekalipun diruntuhkan paksa demonstran pada 1989, tembok itu telah menemukan bentuk terbaiknya. Dalam realita kekinian, bentuk itu menyesap dalam darah.

Kita mengenalnya dengan wajah berbeda. Curiga dan tamak dua di antara. Jarak, makin menakutkan. Ketamakan jadi hasad, lalu mengulang peperangan laiknya Kosovo, Irak, Iran, dan tanah-tanah lain.

D’Art Management menangkap fenomena itu di kalangan seniman dalam realita kontemporer. Pandemi laiknya tembok yang tidak hanya memisahkan manusia dengan manusia lainnya, tetapi juga melahirkan ruang ekslusif yang sulit dijamah.

Pandemi mewariskan pandangan baru, di mana nyawa tidak lebih dari deretan angka sekaligus tanda bahaya, seolah seperti pengungsi Kosovo yang entah selepas perang.

Saat ini perang masih berlangsung karena jarak, yang dibekukan pandemi, belum benar-benar diterabas.

“Fenomena itu kami ungkapkan melalui pameran rupa bertema ‘No Boundaries’. Pemilihan tema terinspirasi dari album kompilasi berjudul sama yang rilis tahun 1999. Kompilasi dari 15 musisi atau band dunia dibuat untuk mengumpulkan dana untuk para pengungsi Kosovo selama masa perang. Masa yang hampir sama dengan keadaan saat ini,” jelas Ditya, mewakili D’Art Management.

BERITA REKOMENDASI