Falsafah Tiong Hua Identik Wasathiyah

ADA persinggungan atau peririsan antara Konsep Tiong Hua dari Peradaban China dan Wasathiyah dalam Islam. Tiong Hua adalah falsafah yang berasal dari kata Tiong berarti jalan tengah dan Hua mengandung arti kerja sama ddan kemakmuran. Sementara Wasathiyah dalam watak ajaran Islam dan umat islam dijadikan Allah sebagai ummatan wasathan atau umat jalan tengah. Karenanya Wasathiyah menolak segala bentuk ekstrimisme yang menampilkan perilaku melampaui batas.

Hal tersebut diungkap Pendiri Chengho Multicultural and Education Trust, Malaysia Tan Sri Lee Kim Yew dan Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Jakarta Din Syamsuddin dalam dialog dengan tema ‘Tiong Hua Media Dialogue & Hari Raya Aidilfitri Celebration’ di Mines Beach Hotel Kualalumpur, Rabu (1/6/2022). Selain keduanya, dialog juga menghadirkan narasumber Ketua Pertubuhan Alkhadeem Kuala Lumpur Tuan Sheikh Hussain Lee, Pengarah Tiong Hua Foundation Dato’ Shamsul Najmi bin Shamsuddin dengan moderator Dato’ Mohd Zaini bin Hassan, Pendiri BebasNews.my Malaysia.

Menurutnya, Tiong Hua (yang di Indonesia disebut Tionghoa) adalah sebuah falsafah, bukan nama kaum atau golongan. Menurutnya, falsafah ini terdiri dari dua kata yakni Tiong yang berarti jalan tengah, dan Hua yang mengandung arti kerja sama dan kemakmuran. “Secara ringkas, Tiong Hua berarti jalan tengah untuk kemakmuran bersama,” tambahnya.

Sebagai falsafah, menurut Lee Kim Yew yang seorang pengusaha dan pemerhati masalah keagamaan dan peradaban, Tiong Hua berasal dari Ajaran Konghucu. Kata China atau Cina datang belakangan dan lebih merupakan penamaan terhadap sebuah negara atau bangsa.

Falsafah Tiong Hua bisa dilekatkan kepada China tapi juga dinisbatkan kepada orang lain asalkan menghayati dan mengamalkan falsafah tersebut. Falsafah Tiong Hua menurunkan sepuluh nilai kebaikan atau keutamaan, di antaranya kejujuran, loyalitas, dan rasa malu (terhadap keburukan), dan perhatian kepada keluarga.

BERITA REKOMENDASI