Hidupkan Museum Di Malam Hari, Sonobudoyo Gelar Pagelaran Kesenian Kerakyatan

Editor: Ary B Prass

Dia mengatakan sejak semula para seniman telah bersepakat untuk berkesenian dengan tetap disiplin protokol kesehatan Covid-19. Apabila ada kesenian yang melibatkan penonton juga dilakukan dengan hati-hati misalnya pada saat mengajak penonton ikut serta menari.
“Kita tetap prokes dengan face shiled bagi penari dan penabuh dengan masker dan semua sudah sepakat. Semua sepakat. Kalau (kesenian) tayub, penonton diajak ikut menari tapi tetap jaga jarak,” imbuhnya.
Dia berharap kegiatan kesenian kerakyatan yang sudah masuk putaran ketiga pada masa pandemi dapat menumbuhkan antusias masyarakat dalam kesenian. Di sisi lain, dapat menghidupkan museum di malam hari sehingga museum tidak sebatas tempat menyimpan barang antik.
“Bagaimana menghidupkan museum malam hari sehingga kesannya jadi tidak hanya menyimpan benda antik saja, misalnya bagaimana topeng dihidupkan dalam pertunjukan, saat siang pengunjung melihat di museum, saat malam mereka bisa melihat visualisasinya seperti apa,” jelasnya.
“Sehingga ke depan memang museum akan menjadi betul-betul living museum karena hidup, tidak hanya benda mati tapi bisa bercerita sesuatu di saat tertentu,” imbuhnya.
Adapun keenam jenis kesenian lokal dari pelbagai Desa di Yogyakarta yang ditampilkan diharapkan dapat menunjukkan kearifan lokal desa tersebut, dan dapat memperkenalkan kepada kaum muda milenial. Seperti kesenian Tari Badui yang merupakan jenis kesenian Shoolawatan yang berkembang dan populer di Kabupaten Sleman.
Keberadaannya dikenal sebagai seni religius yang berfungsi sebagai media dakwah Islam. Tari Badui menggambarkan gerakan bela diri yang dipadu dengan iringan rebana dan jidhor.
Seni jathilan merupakan salah satu kesenian yang populer di Yogyakarta. Pasalnya hampir setiap desa memiliki grup kesenian jathilan. Seni jathilan yang ditampilkan bertajuk Bretya Jalu Aswa yang menggambarkan upaya pencarian jati diri dalam rangka membangun bangsa.

BERITA REKOMENDASI