Ini Ungkapan Livi Zheng di Hadapan 100 Direksi BUMN

Untuk kesekian kalinya, Livi Zheng tampil di hadapan publik. Kemarin siang, di depan lebih dari 100 orang direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sutradara Hollywood, yang tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat,  hadir sebagai pembicara di acara BUMN HCM “Great Leaders Camp” di Bogor, Jawa Barat.

Topik yang dibawakan Livi Zheng dalam acara tersebut adalah “The Self-Disruptive Leader”. Sebelum berbicara, Livi Zheng memutarkan cuplikan filmnya, “Brush With Danger” dan “Bali: Beats of Paradise”, dan mendapat respon cukup hangat dari para peserta.

Tentang topik presentasinya, Livi Zheng menyatakan, disruptif dikenal sebagai perubahan dari masa datang ke masa kini, yang bisa berujung kekacauan akibat ketidaksiapan sumber daya manusia dan antisipasi perubahannya. Menurut wanita asal Jawa Timur itu, di tengah era disruptif sekarang ini, seorang pemimpin, tak selalu lahir lewat pembelajaran di sekolah maupun kekuasan, tapi dari lingkungan tak terduga, seperti dalam pembuatan film.

Untuk itu, seorang pemimpin seperti itu, harus punya kemampuan menangkap dan mengolah ide-ide dari anak buah dan lingkungan sekitarnya, negara bahkan budayanya untuk karya-karya dan kemajuan organisasinya. Namun, dengan karakter itu, Livi menambahkan, seorang pemimpin juga harus bisa menularkan jiwa kepemimpinannya dan melahirkan pemimpin-pemimpin baru dalam lingkungan berbeda. “Dengan demikian, kemajuan organisasi kita akan semakin kuat dan luas cakupannya,” tutur Livi Zheng.

Dalam kesempatan itu, Livi Zheng bercerita 15 tahunnya tinggal mulai dari di Beijing hingga di Hollywood. Livi Zheng memimpin sejumlah kru yang semuanya orang Amerika. “Mereka saya ajarkan makan makanan Indonesia, mengenakan batik Indonesia, dan berbahasa Indonesia,” ujarnya.

Menurut Livi Zheng, berkarir di Amerika, persaingan yang dihadapinya bukan hanya film-film lokal Amerika, tapi juga film-film dari seluruh dunia. Namun, dengan kepemimpinan yang diterapkannya, di antaranya dengan tetap mempertahankan identitas dan akar budaya bangsa, Livi Zheng tak khawatir. “Menjadi orang Indonesia yang dibesarkan di negara yang sangat kaya ini adalah sebuah kelebihan dan dapat memberikan inspirasi tersendiri. Hampir di semua film saya, saya selalu memasukkan unsur-unsur Indonesia. Misalnya di filmnya Brush with Danger, kami memasukkan 50 lukisan dari Indonesia. Demikian pula dalam film Insight,  saya memasukkan pencak silat dalam koreografinya. Bahkan, untuk studio film saya, saya menggotong satu container furniture Indonesia ke sana,” papar Livi Zheng.

Di film terbarunya “Bali: Beats of Paradise”, Livi Zheng mengangkat kisah inspiratif pemain dan composer gamelan Nyoman Wenten, yang mengejar mimpinya sebagai seniman Bali di Amerika lewat gamelan Bali. “Segala halangan di hadapinya, hingga pengorbanannya meninggalkan keluarga beberapa tahun untuk menyebarkan gamelan di negeri orang. Kini, berkat Nyoman Wenten, gamelan sudah diajarkan di kampus-kampus bergengsi di Amerika,” ujarnya. 

Saat ini, gamelan menjadi  mata kuliah khusus  di banyak universitas di AS, di antaranya, di Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), University of California-Los Angeles (UCLA) dan University of California-Berkeley (UC-Berkeley).(*) 
 

BERITA REKOMENDASI