Karya Musik Balungan, Gamelan Bisa Dikreasikan

SLEMAN, KRJOGJA.com – 22nd Yogyakarta Gamelan Festival 2017 resmi usai pada hari Minggu, (23/07/2017) setelah digelar 3 hari di PKKH UGM. Dihari terakhir, pertunjukan diisi oleh Light Orchestra, PBD UNY, dan Balungan. 

Diluar gedung juga terdapat panggung gathering corner dan beberapa diskusi seperti Lokakarya 'Main Gamelan Tanpa Gamelan', Presentasi 'Limbah Berbunyi', dan Sarasehan 'Nongkronging Gamelan, Puisi, dan Kopi'.

Penampilan Balungan sebagai pertunjukan penutup mampu membuat penonton terkesima. Pasalnya, grup musik yang berisi musisi Perancis dan Yogyakarta ini menampilkan perpaduan gamelan dan alat musik modern. Di kesempatan kali ini, Balungan menampilkan 12 karya dengan 12 pemain musik

“Dulu beberapa kali, kawan-kawan dari Perancis ini pernah ke Jogja untuk belajar wayang, batik, gamelan, dan tari. Jadi mereka sudah tidak asing dengan gamelan sejak tahun 80an. Kami sering kolaborasi gantian, kadang kami yang kesana juga,” ujar Sapto Raharjo, seorang maestro gamelan.

Walau aransemennya terkesan tidak biasa, namun mendapat tanggapan positif dari penonton. "Silahkan gamelan dikreativitaskan setinggi mungkin. Gamelan itu kompleksitasnya paling tinggi. Saya selalu mendukung. Generasi sudah beda, dikapakke sak karepmu (diapakan saja terserah),” ujar Sukisno, M.Sn dari Pendidikan Bahasa Daerah UNY. (MG 19)

BERITA REKOMENDASI