Kekuatan Perempuan Tanpa Kehilangan Kecantikan

YOGYA, KRJOGJA.com  Sejumlah orang, laki-laki dan perempuan rela melumuri tubuhnya dengan lumpur tanah liat. Kulit-kulit mulus mereka tertutup padatnya tanah liat berwarna kecoklatan. Mereka melakukan dengan sadar dan atas keingian sendiri. Bahkan tidak jarang dibantu orang lain untuk meratakan tanah liat tersebut.

Beberapa perempuan berambut panjang pun rela rambunya yang terurai penuh dengan tanah liat yang lengket dan pekat tersebut. Tidak ada kesedihan. Justru mereka melakukannya dengan riang dan penuh keikhlasan.

Hal itulah yang tergambar jelas dalam pementasan seni kontemporer Teater Tari Gandrung Manis 'Ritus Lampah Lemah' di bekas bangunan Pendapa Ndalem Pugeran Brontokusuman Yogyakarta, Kamis (04/05/2017) malam. Karya garapan sutradara Dra Setyastuti MSn ini merupakan persembahan Dinas Kebudayaan DIY.

"Kecantikan perempuan memiliki relasi dengan tanah yang dalam bahasa Jawa disebut lemah. Sedang kata lemah sendiri lebih bernilai konotatif dan menarik untuk membicarakan perempuan. Tapi apakah begitu lemahnya perempuan Jawa hingga sering dikatakan sebagai makhluk suwarga nunut neraka katut dengan lelakinya? Hal itu yang ingin kami beberkan dalam pementasan ini," terang Setyastuti sela acara.

Menurut Setyastuti, ketika perempuan Kasongan yang digambarkan dalam Gandrung Manis ini sedang mengolah tanah liat sebagai bentuk representasi perempuan yang indah, produktif, memperlihatkan kekuatan yang sesungguhnya tanpa kehilangan kecantikannya.

"Cantik itu tidak hanya berdasar definisi rambut kemilau, kulit halus dan sebagainya. Buktinya meski berbalut lumpur mereka tetap cantik. Dengan pentas inilah kehidupan perempuan yang nyata. Bagaimana perempuan Kasongan melakukan kerja kreatif untuk keindahan sekaligus menutup kebutuhan ekonomi keluarga," tegas Setyastuti. (R-7)

BERITA REKOMENDASI