Kethoprak The Rise Of Jogja Kingdom HB I Lebih Menarik dan Ringkas

YOGYAKARTA tak hanya terkenal sebagai kota pendidikan, namun juga sebagai kota budaya termasuk menjadi kota budaya ASEAN. Budaya di kota ini dijaga dan terus dilestarikan, baik berupa benda maupun tradisinya. 
 
Salah satu budaya yang masih hidup di kota ini adalah kesenian ketoprak yang sejenis dengan pentas drama tradisional. Kesenian ini berasal dari Surakarta dan Jogja. Seperti pertunjukan ketoprak Moendhi Dharmi  pada hari kamis (25/10/2018) malam, yang memadukan antara budaya dan sejarah. Pertunjukan ini berlokasi di Hamzah Batik lantai 3 dengan judul 'the rise of jogja kingdom: Hamengkubowono (HB) I'. 
 
Pertunjukan ini bercerita tentang perlawanan pangeran Mangkubumi yang dibantu oleh Raden Mas Said untuk melawan dan mengusir belanda yang mencengkram Surakarta. Hingga pada akhirnya meraih perdamain dan perjanjian Giyanti pada tahun 1755 dan berdirilah Kesultanan Ngayogyakarta.
 
Andre selaku Ketua Paguyuban Ketoprak Moendhi Dharma menjelaskan tujuan diadakannya pertunjukan kethoprak ini sebagai bentuk pelestarian budaya."Sudah menjadi tugas kami untuk menjaga budaya di Yogyakarta. Namun, semua konsep dibuat lebih modern. Misalnya tata panggung yang lebih bagus, musik yang lebih modern, artistik serta tata lampunya," kata Andre.
 
Andre mengakui konsep modern agar menarik generasi muda, karena generasi muda sekarang sudah mulai tidak tertarik kepada kesenian kethoprak. Harapanya jika generasi muda sudah mulai tertarik mereka dapat ikut serta melestarikan budaya Jogja ini. Bahkan, pertunjukan kethoprak the rise of jogja kingdom HB I dapat dibilang lebih ringkas.  "Durasi pertunjukannya 45 menit, berbeda dengan pertunjukan kethoprak pada umumnya. Pertunjukan ini di mulai pada jam 19.30 sampai pukul 20.15."
 
Andre menambahkan pertunjukan kethoprak ini dilakukan sebulan sekali setiap kamis minggu ketiga dan minggu keempat. Saat ini baru memiliki dua produksi, pertama the rise of Jogja kingdom hamengkubuwono I dan yang kedua tentang Roro Jonggrang. (Rizki Octavian)
 
 
 

BERITA REKOMENDASI