Ki Sudadi ‘Dramatic Reading’ dan Pembacaan Cerkak

CERKAK atau cerpen berbahasa Jawa tulisan Ki Sudadi (52) berjudul ‘Sulaya’ bisa dibawakan secara dramatic reading oleh mahasiswa jurusan bahasa Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Selain dipentaskan, juga direkam kemudian diuanggah di kanal YouTube. Awalnya Ki Sudadi menulisnya di sebuah majalah berbahasa Jawa terbitan Surabaya, ternyata kemudian menarik perhatian mahasiswa Unnes.

“Cerkak Sulaya yang dimuat di majalah bahasa Jawa itu, mendapat apresiasi dari mahasiswa Unnes, kemudian dipentaskan dan dibuat rekamannya,” kata Ki Sudadi kepada KRJOGJA.com, Minggu (11/7/2021). Ceritanya tentang di rumah Pak Lurah ada bangkai tikus. Tokoh aku kemudian melapor kepada Pak Kaum yang kebetulan ketemu di jalan. Pak Kaum menyarankan agar tokoh aku melapor kepada ketua pemuda bernama Nusron. Tetapi, Nusron malah bingung. Apalagi kemudian tokoh aku dituduh sebagai teroris yang berafiliasi kepada ISIS. Tetapi Pak Carik yang mau menangkap malah lari terbirit-birit.

Selain cerkak Sulaya yang dibawakan oleh mahasiswa Unnes, cerkak Ki Sudadi yang berjudul Kavling Swarga, dibacakannya sendiri pada acara Joglitfest di Benteng Vredeburg Yogyakarta tahun 2019. Waktu itu belum pandemi masih aman untuk kumpul-kumpul. Ki Sudadi mengaku suka menulis cerita surealis yang berisi protes sosial. Melawan korupsi dan kesewenang-wenangan penguasa seperti dalam cerita Sulaya.

Nama resminya adalah Sudadi MPd, sekarang bertugas sebagai Kepala SMPN 4 Wasdaslintang Wonosobo Jawa Tengah. Menggunakan tambahan Ki karena dulu kalau menulis cerita wayang mendapat tambahan Ki. Memang Sudadi banyak menulis cerita wayang, disamping tulisan jenis lain yang menggunakan bahasa Jawa, seperti cerkak, cerita rakyat, pedhalangan, crita sambung, esai, sejarah dan sandiwara radio dalam bahasa Jawa termasuk bahasa Jawa penginyongan.

Tulisan Ki Sudadi tersebar di seluruh majalah bahasa Jawa baik yang diterbitkan oleh pihak swasta maupun terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah, Balai Bahasa DIY, Dinas Kebudayaan Jawa Tengah dan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Selain itu, sebagai guru juga menulis buku-buku ajar, pelajaran bahasa Inggris dan pengayaan jenjang SMP.(War)

BERITA REKOMENDASI