Klowor: Kucing dalam Canvas yang Tak Pernah Usai

YOGYA, KRJOGJA.COM – Jika dahulu kita mengenal Affandi yang menyebut dirinya sebagai "Pelukis Kerbau", maka hari ini kita mengenal sosok Klowor Waldiyono, seorang seniman yang identik dengan karakter kucingnya.

Di awal perjalanan karir Klowor, lukisannya tidak hanya identik dengan karakter kucing. Akan tetapi, goresan hitam dan putih (monocrom) seakan  membawa kesan kesederhanaan, dibalut dengan garis natural yang dituangkan di atas potongan canvas bekas. Namun, lelaki kelahiran 68 ini sadar bahwa setiap goresan tersebut ternyata sedikit monoton dan  membawa kejenuhan bagi penikmatnya sehingga, hal itu memunculkan ide baru untuk membuat lukisan yang sedikit lebih berwarna. "Sebetulnya persoalannya kan harus dinamis, jadi harus aktif, sehingga tidak monoton begitu saja."

Pada tahun 1995, di pameran tunggal pertamanya, ia mulai berani menuangkan warna yang lebih hidup dari hanya sekadar goresan hitam dan putih. Munculnya ide tersebut tidak semata-mata dituangkan begitu saja, akan tetapi butuh beberapa fase yang harus dilalui. Misalnya, dengan memberikan warna pada setengah bagian dari lukisan hitam putihnya.

"Perubahan hitam putih ke warna itu ada beberapa fase, salah satu karya yang sebelah selatan itu (menunjuk pada ruang galeri), seperti anak akrobat main barbel itu, itu hitam putih kemudian ada sedikit warna, itu awalnya seperti itu."

Sejak tahun 1995 itulah Klowor menuangkan ide-ide kreatifnya berbalut dengan berbagi macam warna yang dituangkan di atas kain canvas. Hingga pada akhirnya muncullah lukisan "colorful" dengan berbagai macam karakter hewan dan objek-objek lainnya. Seperti Gunung Merapi, taman bunga, dan berbagai macam objek yang turut menghiasi dinding Museum Galery Jogja.

Klowor memang unik, walaupun lukisannya didominasi oleh berbagai macam objek kucing, kini ia malah memelihara anjing. Namun, tidak ada alasan khusus akan hal itu. Karena, pada dasarnya Klowor menyukai binatang, apapun itu macamnya. 

Kucing dijadikan sebagai objek karya karena memang hewan itulah yang memulai inspirasi pertamanya sebagai seorang seniman. Bagi Klowor, kucing membawa ide yang tiada habis-habisnya untuk dieksplorasi. Terutama dari karakter dan sifat kucing itu sendiri.

"Jadi kucing itu saya gali tidak pernah habis, bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda, saya asik melihat karakternya, tingkah lakunya, kadang garang, kadang lucu, kadang manja. Selama itu masih bisa saya gali, kenapa tidak."

Namun, idenya yang tidak pernah lepas dari kucing sebagai objek lukisnya mendapat kritik dari salah satu peserta yang juga hadir dalam acara Artist Talk pameran tunggal Retrospeksi Klowor Waldiyono 1985 – 2019 (22/12/19). Klowor dianggap terjebak dalam satu objek. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pengulangan karya secara terus menerus.

Akan tetapi, bagi Klowor, kritikan semacam itu tidaklah menjadi masalah. Bahkan, direspon positif dan nantinya dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk karya kedepannya. 

"Siapapun punya statement dan saya menghargai, tapi yang terpenting bagi kita adalah kan evaluasi, bahwa saya harus lebih banyak mengekspose fenomena-fenomena lain seperti Gunung Merapi, bahkan dengan bentuk-bentuk karya yang simpel."

Melukis tidak hanya soal seni dan estetika, tapi terdapat pesan moral yang harus disampaikan, kurang lebih begitulah statement Klowor. Ia hanya ingin menyampaikan bahwa setiap orang harus mampu menghargai makhluk hidup lain. Tentu, hal tersebut tidak terlepas dari berbagai karakter hewan yang menjadi objek lukisnya, terutama karakter kucing yang identik dengannya.

"[Makna yang ingin saya siratkan dalam lukisan kucing ini adalah] pesan moral, bahwa kita sebagai manusia itu, bukan hanya kita saja, masih ada makhluk hidup lain, ada hewan dan tumbuhan, supaya kita juga bisa menghargai mereka." Seni adalah soal rasa, begitulah ungkapan Klowor. Rasa membawanya pada prinsip ikhlas dalam berkarya.

"Karena saya melakukannya tanpa beban, sehingga disiplin dalam berkarya, persoalannya kan tinggal kita niat atau nggak."

"Hidup Berkesian", itulah prinsip Klowor yang terus ditanamkan hingga kini, sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) kala itu. (Siti Halida Fitriati/ UIN Sunan Kalijaga)

 

BERITA REKOMENDASI