Konser Gamelan Berlatar Wayang Kreasul Sapto Raharjo, Buka YGF ke-26

Editor: Ary B Prass

Menurut Program Director YGF Ishari Sahida atau Ari Wulu, YGF selalu berusaha hadir dalam kondisi apa pun sejak 1995. Biasanya Komunitas Gayam16 menghadirkan YGF secara langsung, akan tetapi pandemi Covid-19 membuat kegiatan ini harus digelar secara daring atau online.

“Ini kedua kalinya YGF digelar secara online, meskipun tidak diadakan langsung bersama-sama tetapi, orang tetap bisa menikmati bersama-sama melalui internet yang melampaui batasan ruang dan waktu,” ujarnya dalam sambutan pembukaan YGF ke-26.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Dwi Ratna Nurhajarini mengatakan YGF ke-26 yang bisa terselenggara berkat dukungan Danais dan BPNB DIY menunjukkan kegiatan kebudayaan bisa tetap dilestarikan dengan konsep gotong-royong dan kebersamaan.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi yang membuka YGF ke-26 mengapresiasi kegiatan ini terlebih pada akhir tahun ini gamelan secara resmi akan disidangkan di UNESCO untuk menjadi warisan budaya Indonesia.

Dalam konser hari pertama YGF ke-26, Sanggar Anak Seni Nusantara Sekar Jati Laras menggunakan media seperangkat gamelan  laras slendro dan pelog dengan memasukkan pola tabuhan langgam, dangdut, reggae hip-hop dan sebagainya. Sanggar yang berisi kumpulan anak muda alumni SMPN 4 Pandak Bantul yang pernah menjadi peserta Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) ini ingin mengajak anak-anak mendapatkan sensasi yang asyik bermain gamelan.

Dalam karyanya, sanggar yang berdiri sejak 2016 ini menyajikan komposisi karawitan karya baru yang berpijak pada seni tradisional karawitan. Sebagai pemanis, karyanya juga dilengkapi instrumen tambahan perkusif tradisonal, seperti kentongan, kalung (kelonthong) sapi, otok-otok, dan slompret toet-toet.

Selain Sanggar Anak Seni Nusantara Sekar Jati Laras, hari pertama konser gamelan YGF ke-26 juga diisi Laboratorium Suku Karinding Towel yang menjadi penampil kedua. Wadah kreatif dan ruang belajar non-formal ini terbentuk pada 2009 di Sekolah Tinggi Senin Indonesia (STSI) Bandung (sekarang ISBI Bandung).

Laboratorium yang digagas Dody Satya Ekagustdiman (komponis) dan Asep Nata (etnomusikolog) ini mengolah improvisasi kreativitas melalui instrumen Karinding Towel (karto). Instrumen ini terbuat dari bambu sebagai ekstrak dari karinding buhun (tradisi) dan dimainkan dengan cara dipetik pada ujung instrumen.

Seiring berjalannya waktu, laboratorium ini menambah kegiatan lainnya di luar kampus seperti riset musik, diskusi musik, dan eksperimen musik. Bahkan kini tidak hanya media karto saja yang digunakan, melainkan juga karinding kartu, pelokarina (pelok song), gamelan batu, dan eksperimen instrumen baru lainnya olahan dari limbah.

Sementara, penampil ketiga, Nadhaskara yang terbentuk pada Desember 2020 di Yogyakarta memadukan dua unsur musik modern dan tradisi seperti kendang Sunda, bonang Jawa, saron Banyuwangi, rebana, dan suling bali  Grup ini beranggotakan Anting, Agung, Tredy, Shandro, Adnan, Rian, Rafael, Deden, dan Alan. Kelompok Nadhaskara meyakini perpaduan instrumen tradisi dan modern dapat menghasilkan sebuah warna musik baru yang bisa bersaing di pasar musik global.

Konser gamelan hari pertama ditutup dengan penampilan Lega Swara. Kelompok gamelan ini terdiri dari satu keluarga yang menunggu pandemi reda. Karya-karyanya menghasilkan alunan gamelan kontemporer yang menggugah semangat pendengarnya.

BERITA REKOMENDASI