Liek Suyanto Terus Melakukan Pencarian

SENIMAN Liek Suyanto merasa bukan sastrawan. Tapi karena ia seorang aktor, maka sering diminta tampil berpuisi dan pentas-pentas sastra. Tidak hanya membawakan puisi orang lain, kadang harus tampil improvisasi.

"Untuk itu yang saya bongkar adalah memori saya sehingga menjadi satu pertunjukan," tutur Liek  di tangga naik kompleks Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul, Sabtu (1/6/2019) sore.

Hari itu Liek sedang berulang tahun ke-76. Sejumlah seniman dengan 'provokator' M Boy Rivai menggelar acara sederhana sambil menanti saat berbuka. Tanpa tar ataupun tumpeng. Hanya testimoni oleh Ketua Sanggarbambu Totok Buchori, pembacaan puisi oleh Yani Saptohudoyo dan Retno Intani serta pembacaan geguritan oleh Budi Eswe. Selebihnya dialog tak terbatas para seniman yang hadir seperti Meritz Hindra, Untung Basuki, Otok Bima Sidharta, Pungky Purbowo, dan belasan lagi serta anak dan cucu. 

Yang cukup spesial, seluruh yang hadir didaulat membawakan lagu 'Syukur' karya H Mutahar. Selain spesial untuk ulang tahun Liek, syukur sore itu ditujukan untuk bangsa Indonesia yang memperingati Hari Lahir Pancasila meski juga sedang dilanda duka karena Ani Yudhoyono, istri Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono, baru meninggal dunia. Di samping itu juga membawakan dua lagu yang penciptanya dimakamkan di Girisapto, masing-masing 'Satu Nusa Satu Bangsa' (L Manik) dan 'Bagimu Negri' (Kusbini).

Liek sendiri melakukan monolog secara improvisasi, mengisahkan sedikit perjalanan kesenimanannya. Bermula dari menggelandang berjualan koran sampai kemudian diajak Sunarto Pr, pendiri Sanggarbambu, untuk belajar di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI). Setelah itu, jiwa seninya bertumbuh, sampai kemudian bergabung di Sanggarbambu. Tak hanya seni rupa, dunia panggung dia geluti yang hingga kini lebih banyak dilakukannya. 

Selain pernah menyutradarai pentas teater, antara lain lakon 'Obrok Owok-owok Ebrek Ewek-ewek' (1985) yang sampai kini banyak dikenang, juga terlibat di ratusan film televisi dan sejumlah layar lebar. Saat ini pun sedang dalam proses pembuatan film layar lebar 'Ainun' yang belum selesai. Liek berperan sebagai Kakek, tetangga Ainun.

"Di film, sutradara sudah tahu karakter saya. Kalau itu pas karakter saya, pasti saya diundang," tutur kakek delapan cucu dari enam anak hasil perkawinan dengan Sri Sumaryati (alm) ini.

Sampai usia 76 tahun, Liek masih dalam proses pencarian. Untuk mendapatkannya bukan dalam waktu singkat. Lelaki kelahiran 1 Juni 1943 ini mengambil contoh maestro lukis Affandi yang untuk membuat satu bentuk warna memerlukan proses bertahun-tahun.

"Lha saya membuat satu bentuk kesenian saya, karakter saya itu yang saya kejar sampai umur yang ke-76 ini," katanya.

Meski masih banyak terlibat dalam kesenian, Liek merasa belum pernah mendapatkan yang dicari. Tiap hari, kalau punya persediaan cat dan kanvas, di rumahnya di kampung Rotowijayan, Yogyakarta, Liek terus melukis. Memang perlengkapan melukis tak selalu tersedia di rumahnya. Kalau punya cukup uang, baru bisa membelinya. Melukis dilakukannya kembali setelah diingatkan perupa Watie Respati yang beberapa tahun lalu memberinya kanvas dan cat. Liek pun kembali mencari warna lukisan setelah puluhan tahun diabaikan.(Ewp)

BERITA REKOMENDASI