Matahari Bersinar di Langit Art Space

SAAT tidak bisa berekspresi dengan kata-kata, dan merasa ini bisa diwujudkan dengan laku, maka akan akting lewat teater. Ketika tidak bisa berekspresi dengan kata-kata atau laku, maka akan dituangkan dalam lukisan. Sesekali pula, kesadarannya ia tuangkan lewat lagu dan juga bermain film.

Itulah yang dilakukan Sitok Srengenge yang lebih banyak dikenal sebagai penyair atau sastrawan selama ini. "Saya akan menumpahkan kesadaran saya lewat media (tulisan, lukisan, akting dan lain sebagainya) sesuai dengan kebutuhan ekspresi. Jadi, ekspresi menuntut kesesuaian media sendiri," kata Sitok dalam perbincangan santai, Jumat (12/05/2017).

Ihwal ekspresinya yang dituangkan dalam lukisan ini akan dipamerkan di Langit Art Space pada 18 Mei ini hingga 18 Juni mendatang. Setidaknya ada sebanyak 40 lukisan abstrak yang berhasil diselesaikan selama 2 tahun ini oleh Sitok Srengenge.

Ong Hariwahyu, selaku kurator menilai, langkah Sitok mengadakan pameran di Langit Art Space sangat tepat. Betapa tidak, kalau ditinjau dari segi nama sama-sama unsur alam. Srengenge dalam bahasa Indonesia adalah Matahari. Sedangkan Langit yang dijadikan tempat pameran juga merupakan unsur alam. "Maka yang terjadi adalah posisi Matahari yang berada di Langit Art Space," ungkap Ong.

Tak hanya Matahari saja yang menyinari Langit Art Space. Pada saat pembukaan pameran yang berlangsung tanggal 18 Mei malam, juga bertaburan bintang. Sebut saja Gunawan Mohammad (GM) selain meresmikan pembukaan pameran Sitok juga akan berorasi. Pun juga ada Dian Hape and friends akan menghibur para tamu undangan. Demikian pula kehadiran Irma Hutabarat serta Tamara Geraldine.

Terkait dengan dunia seni rupa, Sitok mengaku belakangan ini semakin intensif digeluti, setelah kepindahannya dari Jakarta ke Yogya. Bisakah dia disebut sebagai pendatang baru di dunia seni rupa mengingat selama ini namanya lebih banyak berkibar di dunia sastra? Sitok juga tak keberatan bila ada yang menilai seperti itu.

Namun sejatinya, kiprah Sitok yang bersinggungan atau pergaulannya  dengan dunia seni rupa sudah lama berlangsung. "Hobi saya melukis itu sudah lama," ujarnya.

Ia pun bertutur, selama ini ia banyak mengoleksi lukisan-lukisan. Kemudian sejak 1997 – 2013 dirinya  menjadi kurator di Galeri Lontar – Komunitas Utan Kayu dan Salihara Jakarta. Tugasnya dengan para kurator lain adalah secara bergiliran atau bersama-sama mempersiapkan pameran, seperti memilih dan membuat tema. (*)

BERITA REKOMENDASI