‘Mecaki Wektu’ Raih Penghargaan Rancage

Editor: Ary B Prass

 

YOGYA, KRJOGJA.com – Anugrah Rancage 2022diberikan  untuk kumpulan geguritan ‘Mecaki Wektu’ karya Sriyanti S Sastroprayitno (Dra Sriyanti MSi). Ini merupakan sebuah penghargaan bergengsi untuk karya sastra daerah dari Yayasan Rancage. Sebelumnya, ‘Mecaki Wektu’ sudah mendapat penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Sedangkan gurit Sriyanti terbaru dimuat di rubrik Mekar Sari SKH Kedaulatan Rakyat.

“Sekilas buku kumpulan gurit ini terkesan feminim,” kata Sriyanti yang juga suka menyanyi keroncong, Selasa (8/2/2022).

Sampulnya bulan purnama di atas samudera dengan warna dominan ungu kehitaman, ditambah siluet seorang perempuan dalam kegelapan. Menurut Sriyanti, gambar menyiratkan perjalanan kehidupan itu tidak berbeda dengan pasang surutnya samudra. Meskipun jalan gelap yang harus ditempuh bulan selalu setia memberikan terangnya agar terus bisa melangkah menuju cita-cita yang dituju.

Sriyanti menambahkan, desain sampul digarap oleh D’Eros Sudarjono, pengantar oleh Daladi Ahmad dan Budi Wahyono. Editor dan tata letak Edhie Prayitno lge dan Lukni Maulana. Penerbit Cipta Prima Nusantara Semarang.

Buku ‘Mecaki Wektu’ itu tebalnya 294 halaman berisi 231 judul gurit. Satu gurit ditulis tahun 1991, empat gurit ditulis 2021-2013, dan 226 judul lainnya ditulis tahun 2014 – 2020. Temanya beragam. Gurit-gurit tersebut seluruhnya pernah diunggah di akun facebook Yanti S Sastro Prayitno. Sebagai usaha mendokumentasi karya maka kemudian gurit-gurit itu dibukukan. Selain itu, Sriyanti juga menulis gurit pada buku antologi bersama ‘Wanodya’ 1 – 3 (2017 – 2019), ‘Ing Sawijining Wektu Mengko’ (2019), dan ‘Omah’ (2020) itu tidak masuk di ‘Mecaki Wektu’.

Saat buku ‘Mecaki Wektu’ terbit, tidak disangka Balai Bahasa Jawa Tengah dalam kegiatan tahunan penghargaan Prasidatama ada tambahan kriteria untuk buku kumpulan puisi bahasa Jawa. ‘Mecaki Wektu’ mengikuti ajang itu dan ternyata mendapat penghargaan Prasidatama 2021. Balai Bahasa Jawa Tengah kemudian menerjemahkan ‘Mecaki Wektu’ dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Menapaki Waktu’ dan dalam dialek Banyumasan ‘Napaki Wektu’.

Sriyanti juga sudah menghasilkan antologi tunggal buku puisi ‘Ketika Cinta Menunjukkan Wajahnya’ (2017). Jadi antologi ‘Mecaki Wektu'(2021) merupakan antologi tunggal yang kedua. Tahun ini segera meluncurkan buku kumpulan cerpen ‘Pulanglah’,disamping buku kumpulan cerkak ‘Kabar saka Stockholm’ duet dengan Yanie Wuryandari. Sriyanti pernah menjadi juara 1 lomba menulis esai cerita bersambung di majalah Panjebar Semangat, dan juara 2 geguritan yang diselenggarakan oleh Yayasan Podhang Semarang. Sriyanti sendiri berlatar belakang sarjana kimia dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan sekarang menjadi dosen kimia di Universitas Diponegoro Semarang. (War)

BERITA REKOMENDASI