Mengembalikan Ruh Kesenian Malioboro Lewat Melukis

YOGYA, KRJOGJA.com – Dua ratus pelukis melukis di area nol kilo meter yogyakarta dalam acara Jogja Cross Culture pada Minggu (04/08/2019). Para pelukis bebas melukis semua hal yang dianggap unik dalam tema keistimewaan yogyakarta.

Kegiatan J'ogja Sketsa bersama Maestro' dibuka secara resmi pada pukul 8 pagi. Namun ada beberapa pelukis yang memulai dari pukul 7 pagi. “Jamnya tidak dibatasi karena kebutuhan setiap pelukis berbeda-beda. Ada yang memilih melukis pagi karena lebih segar udaranya dan belum ramai orang. Batas selesainya juga diserahkan pada para pelukis. Mau dua jam, tiga jam, bahkan delapan jam,” ujar Kepala Bilang Pelestarian Warisan dan Budaya Dinas Kebudayaan DIY Pratiwi Yuliani.

Dinas ebudayaan bekerja sama dengan Asosiasi Perupa Indonesia DIY mengumpulkan dua ratus pelukis di yogyakarta untuk acara Jogja Cross Culture.  Selain dua ratus pelukis yang terdaftar, kegiatan ini juga terbuka bagi masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Partisipan yang mengikuti beragam dari anak-anak hingga lanjut usia.

Baca Juga : 

Jogja Cross Culture Jadi Langkah Awal Kebudayaan Yogya Dilihat Dunia

Dengan menggunakan berbagai media lukisan dari kanvas, kayu, buku gambar, dan lain-lain, para pelukis berhasil menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan yogyakarta untuk menyaksikan kegiatan Jogja Sketsa bersama Maestro. “Senang rasanya bisa wisata ke Malioboro pas ada acara seperti ini. Wisatawan seperti saya jadi semakin mengenal bahwa yogyakarta memang kota budaya,” ujar Intan (23) wisatawan dari Padang.

Menurut Agus Nuryanto   atau dalam seni rupa dikenal dengan Agus Wayang Jewer ia merasa senang mengikuti kegiatan Jogja Sketsa dalam acara Jogja Cross Culture. Para pelukis yang biasanya hanya bekerja dalam studio dapat bersosialisasi secara langsung untuk menambah wawasan.

Media lukis yang digunakan seluruhnya dari pelukis itu sendiri. Para pelukis bebas menghasilkan berapapun karya lukisan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hasil lukisan sepenuhnya menjadi hak para pelukis dan tidak diambil oleh Dinas Kebudayaan.

“Harapannya Jogja Cross Culture bisa menjadi acara setiap tahun sehingga dapat membangkitkan lagi kegiatan para seniman Yogyakarta. Malioboro yang dulu dipenuhi dengan ruh kesenian itu kembali hidup. Seni musik, lukis, sastra, dan lain-lain dapat terus dikenal sebagai icon yogyakarta” Ujar Pratiwi Yuliani. (Anisa’u Fitriyatus S / Nurul Sholihah – Mahasiswa Magang Universitas Negeri Malang)

BERITA REKOMENDASI