Murid SLB-A Yaketuis Ikut Workshop Plasticology

YOGYA, KRJOGJA.com – Sebanyak 14 murid SLB-A Yaketuis mengikuti workshop membuat karya dari sampah plastik (Plasticology), paa Rabu (25/10/2019). Workshop ini didampingi oleh seniman Made Bayak, yang karyanya pada Biennale Jogja tentang Plasticology.

Workshop ini diawali dengan berkeliling di instalasi milik Made Bayak berupa piramida sampah dan beberapa foto kegiatan workshop Plasticology.  Menurut Made Bayak, workshop untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini sebagai sarana mengampanyekan bahaya sampah plastik dan ketidakpedulian masyarakat soal sampah plastik. 

"workshop ini bentuk perhatian lebih terhadap lingkungan, terutama bagaimana mengubah sampah plastik menjadi sebuah karya. Para siswa antusias saat menempel potongan sampah plastik," ungkap Made Bayak.

Dia menjelaskan pola yang ditempelkan berdasarkan imajinasi anak-anak. Misalnya, Aris Maulana Irawan menempelkan beberapa gambar yang belum pernah dilihatnya menjadi seperti bentuk gunung.

Menurut Made Bayak, workshop mengajak anak-anak yang berkebutuhan khusus ini baru pertama kali dilakukannya. “Workshop dengan mereka (teman-teman berkebutuhan khusus) perlu treatment yang berbeda, soalnya ini juga baru pertama kali (bagi saya)”, ujar Bayak.

Bayak menjelaskan perlakukan khusus ini dilakukan agar peserta workshop bisa mengikuti karena kebanyakan anak-anak SLB ini 'low vision' dan tuna netra. Namun, menggunakan panca indra seperti peraba dan penciuman untuk bisa merasakan tekstur dan bau dari sampah plastik yang digunakan. 

Lewat workshop ini, Bayak belajar dari siswa guna menemukan cara agar workshop bisa dilakukan oleh anak-anak SLB-A YAKETUIS. Alhasil, anak-anak diminta untuk merasakan tekstur sampah, memilih warna yang diinginkan dan menempel pola yang mereka imajinasikan.  "Sebagian karya yang dibuat akan dipajang di instalasi milik Made Bayak, dan sebagian lagi dibawa untuk kenang-kenangan SLB-A YAKETUIS."

Selain workshop, Program publik Biennale Jogja XV antara lain berupa; Tur Pameran Berpemandu, Wicara Seniman, Wicara Kuratorial, Simposium Publik, Pemutaran Film bekerja sama dengan Forum Film Dokumenter, serta sejumlah Lokakarya dan Diskusi bersama Seniman Biennale Jogja.

Bayak Bondowoso Melengkapi Seribu Candi

Pada malam pembukaan Minggu, (20/10) lalu Made Bayak juga melakukan performance art di depan karyanya di Jogja National Museum. Made Bayak mengajak penari Legong lalu mengikat  penari dan penabuh gamelan dengan plastik. Hal ini sebagai sebagai simbol budaya dicemari oleh limbah plastik. Pada Biennale Jogja ini, Bayak membawa satu isu sampah plastik.  Analogi simbol dan bangun Candi/ piramid dari sampah plastik itu menjadi jejak dan simbol peninggalan manusia hari ini. 

Dari sampah yang terkecil, baik yang dihasilkan oleh individu, kemudian berkembang menjadi sampah keluarga, komunitas dalam suatu desa, hingga membentuk kumpulan yang lebih besar seperti suatu wilayah kabupaten kota atau provinsi, dan demikian selanjutnya sehingga semua menjadi masalah yang jauh lebih besar (secara global). (*)

BERITA REKOMENDASI