Mustika Maya Tanggapi Isu Sara dengan Drama Musikal

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Perbedaan masih saja terus menciderai kisah asmara, terlebih jika terdapat pengalaman kelam yang pernah menyangkut rasnya. Hal itu pula lah yang menghambat seorang mahasiswa bernama Angkasa dalam menggait hati adik tingkatnya.

Berada dalam satu kelas yang sama membuat hubungan mereka semakin dekat. Sayang, ketika Angkasa berkunjung ke rumah pujaan hatinya itu si ayah perempuan justru menolak kedatangan dirinya.  Bukan tanpa alasan, trauma mengenai tragedi 1998 lah yang membuatnya tidak merelakan sang buah hati merajut cinta dengan pribumi. Saat itu pula, ia pun langsung mencaci maki Angkasa di hadapan putrinya.

Tak terima martabat keluarganya diinjak-injak, Angkasa melaporkan kisah pahitnya kepada kedua sang orang tua. Terpancing emosi, ibunda Angkasa kemudian mendatangi kediaman pujaan hati anaknya. Ternyata, sang ayah perempuan tak lain adalah mantan kekasihnya. Mereka pun saling berdebat hingga akhirnya  terdiam dan merefleksikan diri.

Sepenggal kisah itulah yang dihadirkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) musik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik(FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Mustika Maya dalam drama musikal Angkasaku di Auditorium Thomas Aquinas, Kampus II UAJY, Jumat (01/09/2017) malam.

“Drama musikal ini menjadi tanggapan kami tentang isu sara yang terjadi belakangan ini, dengan drama dan musik kami balut bahwa masalah sara di sini itu sebetulnya tidak berguna jika dipermasalahkan,” ujar penanggung jawab drama musikal Angkasaku, Raema Yoratian (21) kepada KRjogja.com.

Raema menjelaskan, pemilihan nama Angkasaku sendiri didasari atas rasa kagumnya Mustika Maya terhadap angkasa. Menurutnya, ciptaan Tuhan tersebut terdiri dari berbagai macam benda yang tidak sejenis, tetapi mereka tetap menjadi satu kesatuan yang utuh.   

“Angkasa itu terdiri dari berbagai macam benda yang tidak sejenis, ketika ada hanya beberapa dan mereka juga berbeda-beda. Kami mengagumi sebuah angkasa, karena bermiliar galaxy dan bintang mereka tetap menjadi satu kesatuan, ya angkasa itu,” paparnya.

Raema pun berharap agar penonton maupun masyarakat yang mendengar kisah drama musikal Angkasa dapat terinspirasi terkait perbedaan. Sehingga tidak lagi ada permasalahan yang menyangkut isu sara di Indonesia.

“Apa pun perbedaan kita tetap satu, tetap bhineka tunggal ika dan kita Indonesia, apapun  latar belakangmu, status sosial mu, kamu berhak untuk dihargai dan berhak untuk menghargai,” imbuhnya.

Pimpinan Produksi, Eduardus Bagaskoro Satrio Adi (18) menambahkan, drama musikal ‘Angkasaku’ sebenarnya merupakan puncak acara dari Mustika Maya. Tema yang dipilih pun tidak terlepas dari kehidupan mahasiswanya yang menjadi bagian dari FISIP.

“Kami sebagai anak FISIP sedih, kenapa negara kita smpe seperti ini. Maka dari itu kami pilih tema yang berhubungan dengan ras dan agama. Tapi semua selesai karena cinta, karena sejatinya cinta itu tidak memandang ras dan agama apapun,” tegasnya. (MG-10)

BERITA REKOMENDASI