Nguri-nguri Kebudayaan Daerah, Grebeg Kupat Harus Dilestarikan

KIDUNG doa empat kiblat mengalun syahdu di Joglo Saridin, Keraton Kawitan Amarta Bumi, Desa Margosari, Kecamatan Limbangan, Kendal, Sabtu (23/6/2018) malam. Doa dengan lirik Jawa terus dilantunkan mengiringi lima gadis yang menari gemulai sembari menabur bunga melati ke penjuru ruangan keraton.

Ritual doa empat kiblat tersebut menjadi penanda dimulainya Grebeg Kupat 1439 Hijriah di Keraton Amarta Bumi. Usai doa dilantunkan, sembilan penari bedaya nawa tirta membawakan tarian sakral tersebut dengan lembut dan anggun di depan raja, keluarga dan kerabat Keraton Amarta Bumi, Sekda Provinsi Jateng Dr Ir Sri Puryono KS MP, Wakil Bupati Kendal Masrur Masykur, Forkopimcam, tokoh agama, serta masyarakat sekitar.

Tradisi tahunan yang digelar setiap perayaan Hari Raya Idul Fitri itu, diawali dengan mengarak dua gunungan yang berisi kupat dan lepet serta aneka hasil bumi. Arak-arakan gunungan diikuti seluruh keluarga dan kerabat keraton, termasuk prajurit dan abdi dalem, serta para tamu undangan.

Hanya diterangi obor bambu, rombongan kirab gunungan berjalan kaki dari pendapa keraton menuju Joglo Saridin yang berada di komplek keraton atau biasa dikenal dengan Kampung Jawa Sekatul.

Bangunan khas Jawa kuno dengan atap, penyangga, dinding, hingga lantai terbuat dari kayu jati tua itu menjadi tempat diselenggarakannya tradisi leluhur yang setiap tahun digelar Keraton Amarta Bumi.

Mengenakan busana adat Jawa, Sri Anglung Prabu Konto Joyonegara Cakra Buana Giri Natha beserta keluarga dan para tamu, mengikuti berbagai ritual grebeg dengan khidmat. Grebeg kupat ditutup dengan berebut gunungan oleh seluruh peserta acara dan warga.

Sekda Jateng Sri Puryono menyampaikan, acara yang diselenggarakan setiap Syawal itu merupakan wujud syukur kepada Allah atas anugerah dan karunia-Nya. Setelah berpuasa Ramadhan selama sebulan penuh, kemudian mengarak gunungan ketupat dan aneka hasil bumi yang sarat makna.

Ketupat yang orang Jawa menyebutnya kupat mempunyai arti “ngaku lepat” atau mengaku bersalah kemudian meminta maaf kepada sesama. Selain itu kupat juga mempunyai arti empat “L”, yaitu lebar atau telah selesai beribadah puasa, luber yakni mudah memaafkan terhadap sesama, lebur atau saling memaafkan, dan labur yang memiliki arti kembali putih.

“Apa yang dilakukan Keraton Amarta Bumi ini sangat bagus, karena tidak semua dapat melakukan ini. Acara seperti ini salah satu upaya mengangkat budaya tradisional,” terang Sekda usai acara grebeg kupat.

Sekda menjelaskan, tradisi Grebeg Kupat merupakan salah satu wujud berkepribadian dalam kebudayaan. Hal itu seperti yang disampaikan Presiden pertama RI, Ir Soekarno mengenai Tri Sakti, di mana Bangsa Indonesia harus berdaulat dalam politik, berdikari di bidang ekonomi, serta berkepribadian dalam kebudayaan.

“Grebeg kupat ini salah satu bentuk berkepribadian dalam kebudayaan. Tradisi warisan leluhur ini sangat baik dilaksanakan dan dilestarikan karena nguri-nguri kebudayaan daerah,” bebernya, seperti dilansir dari laman resmi Pemprov Jateng.

Tradisi asli Jawa tersebut, menurut Sekda, dapat membentuk kepribadian bangsa. Sebab dalam ritual yang diadakan sekitar sepekan setelah lebaran ini selain terdapat hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah), sekaligus manusia dengan manusia (habluminannas). (*)

BERITA REKOMENDASI