Pisungsung Jaladri, Sedekah untuk Bumi Parangtritis

BANTUL,KRJOGJA.com – Laut memberi kehidupan bagi penduduk Parangtritis dan sekitarnya. Setiap tahun usai masa panen padi, warga Parangtritis bersuka cita merayakan upacara sedekah bumi.Bhekti Pertiwi Pisungsung Jaladri Parangtritis kali ini diadakan pada hari Selasa (9/5/2017) diikuti oleh segenap warga RT 8, Dusun Mancingan 11, Kretek, Bantul, Yogyakarta.

“Upacara adat tahunan ini kami lakukan sebagai rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa dan berharap tahun depan mendapat rezeki lebih di tahun selanjutnya,” ujar Roni Susilo, salah seorang warga Dusun Mancingan 11.

Warga dusun antusias menyambut upacara adat tahunan ini. Tiga hari sebelum hari upacara, diadakan pengajian. Pada Senin sore (8/5/2017) warga membuat tumpeng kecil dan ayam ingkung di tingkat RT, dibacakan doa oleh kaum, lalu ditukarkan dengan tumpeng warga lain. Kemudian malam harinya, warga ramai-ramai membuat jodhang, serupa tumpeng yang dipersembahkan pada Selasa malam. Jodhang terdiri atas nasi tumpeng dan buah. Adapun ancak, persembahan pakaian dari warga yang berjualan pakaian di Parangtritis yang nantinya akan dilarung.

Upacara adat Pisungsung Jaladri dimulai dengan berkumpulnya rombongan 8 RT di Joglo Pariwisata Parangtritis. Setiap RT membawa sesaji sekaligus berkreasi menampilkan iring-iringan, seperti drum band, gunungan, patung Dewi Sri, dan jathilan. Pukul 13.00, rombongan berjalan dari Parangtritis menuju Parangkusumo dengan dipimpin pasukan berkuda dengan kostum Jawa yang disebut pengirit atau pengiring. Perjalanan menuju Parangkusumo memiliki tujuan tersendiri, “Warga masih percaya jika Nyai Roro Kidul ada, sebagai penguasa laut Kidul,” papar Roni.

Setelah sampai di Parangkusumo, beberapa rombongan menuju ke Cempuri, suatu tempat untuk berdoa. Warga mempercayai jika Cempuri merupakan petilasan bertemunya Sultan Agung (penguasa Mataram) dan Nyai Roro Kidul. Warga menyebut Cempuri sebagai istana Nyai Roro Kidul.

Sesudah sesaji didoakan di Cempuri, kemudian sesaji dilarung di laut. Pelarungan sesaji ini menjadi timbal balik dari doa warga yang berharap akan datang rezeki yang lebih baik. Kepercayaan Kejawen ini masih mendarah daging di daerah Parangtritis karena warga banyak yang masih keluarga abdi dalem. “Memang mau tidak mau, warga masih percaya roh. Kami masih keturunan darah biru,” kata Roni.

Roni menambahkan jika ayahnya menjadi juru kunci Cempuri. Saat ini terdapat 60 sebagai juru kunci Cempuri. Anugerah ini diwariskan secara turun temurun, sehingga upacara adat seperti ini akan terus berlanjut. (Nur Fahmia)

 

BERITA REKOMENDASI