Prof Suminto: Pohon Kebudayaan Harus ‘Diurip-urip’

Sedangkan Hasta Indriyana selaku salah satu editor mengatakan, Iman Budhi Santosa itu ibaratnya seperti tumbuhan yang bisa bersemi. “Seperti tunggak pohon yang sudah tua, lapuk, menuju mati. Di balik itu ada tunas yang tersembunyi. Inilah yang dilakukan Iman Budhi Santosa, ada regenerasi berkaitan sastra dan budaya secara umum,” katanya. Itu sudah dilakukan kepada anak-anak muda sejak dulu, bahkan apa yang dilakukan seperti dilakukan Saini KM di Bandung, Umbu Landu Paranggi di Bali dan Piek Ardijanto.

Soal buku, sebenarnya ‘Nunggak Semi’ filosofinya, melahirkan rezeki. “Rezeki tidak harus identik dengan uang,” katanya. Rezeki bisa berarti banyak teman, saudara, kerabat, ilmu dan seterusnya. “Itu yang saya tangkap dari Nunggak Semi Dunia IBS,” tandasnya.

Buku setebal 510 halaman tersebut disusun oleh Latief S Nugraha, S Rimba, Umi Kulsum, Sukandar dan Hasta Indriyana dengan penasihat Nana Irnawati dan Mustofa W Hasyim. (Jay)

BERITA REKOMENDASI