Resah Karena Hantu, Seniman Asal Yogya Ini Ciptakan Pocong-Man

NAWA Rie Eda pria kelahiran 1980 merupakan owner JTOKU Yogya merasakan keresahan karena masyarakat di Indonesia banyak yang ditakut-takuti oleh mitos hantu. Keresahan itu yang kemudian mendorongnya menciptakan karakter superhero berwujud pocong.

JTOKU sendiri dikenal sebagai perusahaan asal Yogya yang bergerak di bidang kreatif, khususnya desain tokoh anime, desain karakter, komik, mainan dan lainnya. Saat ini justru pengguna jasa perusahaan ini 90 persen adalah konsumen luar negeri.

Nawa berkomitmen untuk menciptakan superhero lokal yang tidak ada di film-film barat. Salah satu karakter yang ia ciptakan adalah Pocong-Man. Ide itu berasal  dari keresahan diri sendiri.

Baca Juga : Kisah Nawa Kenalkan Superhero Lokal Lewat JTOKU

 Pocong-Man mengambil tokoh hantu Indonesia. “Saat ini saya prihatin dengan kondisi masyarakat Indonesia yang begitu mudah untuk ditakut-takuti dengan mitos hantu,”ujar Nawa dalam talkshow Mid-Java Toys and Comic Fair yang berlangsung di Jogja City Mall.

Nawa menambahkan,  JTOKU ingin mengenalkan sebuah konsep bahwa ada science fiction atau ada pesan di balik sebuah karakter dan menghilangkan rasa takut  terhadap hantu.

“Saya juga prihatin ketika di luar negeri tokoh-tokoh superhero seperti Batman, Supermen, Sun Go Kong yang awalnya hanya sebuah legenda namun berhasil meledak saat dibuat karya, sedangkan Indonesia yang sangat kaya akan legenda justru minim inovasi,” ujar Nawa.

Hingga saat ini target pemasaran produk 90% selalu menyasar pasar luar negeri karena budaya popculture seperti toys, komik, dan tokoh karakter seperti ini di luar sudah sangat  diminati. Sedangkan di Indonesia menurut Nawa sendiri baru mulai terasa ada nafasnya itu sekitar 2014 lalu. “Sekaligus sebagai momentum mengangkat eksistensi superhero lokal salah satunya ya Pocong-Man ini”, ujar Nawa.

Rencana di Tahun 2020, JTOKU akan semakin mengembangkan di Toys-nya. “Kami ingin menyatukan antara komik,games, dan toys jadi satu,” tutur Nawa

Berangkat dari tantangan yang dihadapi Nawa seperti kemampuan sumber daya yang terbatas, ia kemudian membuka sekolah komik dan ilustrasi bernama  Sangilus Academy.

“Di dalam kelas Sangilus Academy kita belajar bagaimana itu ilustrasi, skepting toys, dan teknik-teknik membuat karakter tokoh,” ujar Nawa.  (Fatony Royhan Darmawan/KRAcademy)

BERITA REKOMENDASI