Retrospeksi Klowor: Menghidupkan Kembali Kanvas yang Mati

BERJALAN menyusuri gedung Jogja Gallery, Klowor Waldiyono menceritakan histori hidupnya yang tersketsakan di atas kanvas yang sudah hidup bersamanya sejak awal ia menjadi seniman, yakni tahun 1990-an. Perjalanan itu ia ceritakan sesaat setelah mengakhiri sesi konferensi pers "Pameran Retrospeksi Klowor" pada Senin (16/12/2019).

Di bagian depan Jogja Gallery, awak media disambut dengan lukisannya berjudul Doa-Doa yang menampilkan seseorang dalam pembaringan terakhirnya. Lukisan itu menjadi penyambut paling historikal yang ditampilkan Klowor. Rupanya, sosok yang terbaring dalam lukisan tersebut adalah ibundanya. Terdiri dari garis-garis hitam di atas kanvas putih, Klowor berhasil menyuntikkan sejarah mengenai kasih ibunya di atas kanvas.

Ke hadapan awak media, pria kelahiran 31 Januari 1968 itu bercerita bagaimana ia menghidupkan semua karya-karyanya yang sudah hampir "mati" itu. Seniman lulusan ISI tahun 1989 itu memang dikenal sebagai seniman multi-material. Ia tak segan jika memang harus melukis di atas bungkus makanan sekalipun.

"Bagi saya, dengan material apapun, kita tetap bisa berkarya. Walaupun dengan kertas bekas atau bungkus makanan," katanya.

Gedung Jogja Gallery yang berada di jantung kota Yogyakarta tepat di sebelah Utara Alun-Alun Utara kota diubahnya ke dalam enam sketsa. Lukisan-lukisannya di atas kertas bekas itu ia pamerkan pada sketsa ke-lima. Tidak ada coretan cat dalam lukisan tersebut, bahkan pena di atas kertas kusam pun menjadi bernilai. Lukisan-lukisan itu berwarsa 90an hingga 2000an. Walau dibuat di masa lampau, lukisan itu tetap indah dipandang.

Pameran Retrospeksi ini merupakan upaya Klowor dalam mempertahankan karya-karyanya menjadi rangkaian arsip yang memengaruhi separuh kehidupannya. Ia ingin menjadikan pameran arsip ini sebagai kilas balik perjalannya sebagai seniman lukis selama 30 tahun.

Melalui pameran ini, seniman yang sudah memiliki karya hampir sebanyak 140an item itu hendak mengajak seniman atau penikmat seni, bahwa seni yang ada adalah untuk dinikmati, dirawat dan dijaga seperti apa yang dilakukannya.

Riuhnya dunia seni rupa di era modernisasi ini tidak boleh menjadi pencabut nyawa bagi "ruh" yang sudah ada dalam karya-karya Klowor. Ia mengatakannya demikian. Bahwa pameran ini adalah medium untuk menunjukkan value dari sebuah karya yang tidak boleh digerus oleh usia dan modernisasi.

Pameran Pertama Klowor

Di dalam sketsa ke tiga, ditampilkan impresi para kritikus dan wartawan seni rupa mengenai karya Klowor. Di dalamnya banyak ditampilkan ulasan-ulasan media mengenai karya-karya Klowor.

Seperti seri karya fenomenalnya berjudul "Cat Series" yang menjadi salah satu seri yang melambungkan namanya. Ulasan-ulasan mengenai "Cat Series" juga tampil di ruang sketsa.

Tahun 1988 adalah tahun paling berkesan bagi Klowor. Pada tahun itu, ia bersama lima orang temannya mempersatukan diri dalam sebuah kelompok kecil dan membuat pameran. Pameran tersebut ditunjukkannya di Karta Pustaka. Pameran ini boleh saja disebut sebagai pameran pertama Klowor, tapi pameran pertama ini tak bernilai bagaikan pameran seorang pemula.

Karta Pustaka menyaksikan bagaimana Klowor berhasil merangsek masuk ke dalam riuhnya dunia seni rupa. Pemerintahan Belanda bahkan memberikan support. Ulasan berbahasa Belanda menjadi bukti tak terbantahkan bagaimana Klowor berhasil memulai debutnya dengan epik.

Hidup Abadi Dengan Arsip

Pameran Retrospeksi Klowor ini berhasil membuat penikmat seni masa kini mengenal sejarah hidupnya. Karya-karyanya boleh berumur tua, tapi dengan pengarsipan, generasi yang bahkan tak merasakan era-era awal Klowor di dunia seni lukis menjadi menikmati karya-karyanya.

Seperti apa yang ia katakan, bahwa seni tak cukup dinikmati, tetapi mesti dirawat dan dijaga agar dapat terus hidup dan dapat dinikmati oleh generasi-generasi selanjutnya.

"Harapannya, pameran ini akan menunjukkan bahwa nilai sebuah karya itu jangan sampai hilang," pungkasnya. (Siti Halida Fitriati/ UIN Sunan Kalijaga)

BERITA REKOMENDASI