Riset Sejarah Harus Dilakukan untuk Menulis Cerita Sejarah

Editor: Ary B Prass

BANTUL, KRJOGJA.com– Riset sejarah perlu dilakukan untuk menulis cerita berlatar sejarah. Kalau tidak, pembaca tidak mendapatkan sesuatu yang baru. Sastrawan Budi Sardjono melihat novel Jawa ‘Topeng Mentaok’ karya Bey Saptomo tak mencerminkan itu.
“Ceritanya menarik, tapi pembaca tidak mendapatkan sesuatu yang baru,” kata Budi saat memperbincangkan karya pemenang sayembara novel Jawa 2018 tersebut pada gelaran Sastra Bulan Purnama (SBP) edisi ke-122 di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Sabtu (13/11/2021) petang.
Budi mengatakan, Bey atau Bayu Saptomo lebih banyak melakukan riset dari ketoprak yang digelutinya. Sebelum terjun ke dunia sastra Jawa, Bey memang seorang pelaku seni ketoprak. Tapi menurut Budi yang sering mengunjungi peninggalan sejarah yang dijadikan latar cerita yang ditulisnya, pembaca mestinya bisa mendapatkan gambaran di mana suatu tempat berada. Contoh yang disampaikannya, penulis menyebut Pegunungan Sewu untuk suatu tempat. Padahal,  Pegunungan Sewu itu sangat panjang.
Pada Bincang Sastra yang diawali penampilan fragmen ‘Topeng Mentaok’ oleh Joko Kamto, Eko Winardi, serta Ningsih Maharani ini, peneliti sastra Jawa Dhanu Priyo Prabowo tak menampik pendapat Budi. Tapi Dhanu lebih melihat Bey sebagai sosok yang sedang berusaha beralih kode dari seniman ketoprak ke sastra.

BERITA REKOMENDASI