Saat Mahasiswa Asing Tunjukkan Bakat Berkesenian, Beginilah Hasilnya

YOGYA, KRJOGJA.com – Suasana di Panggung Kampayo XT Square jauh lebih ramai dari biasanya Rabu (28/3/2018) malam. 63 mahasiswa dari 15 negara berkumpul di panggung sederhana dalam agenda Satu Dunia Dari Jogja #3.

Gelaran program atas prakarsa Indro Kimpling Suseno ini sebenarnya sudah berjalan untuk ketiga kalinya sejak 2016. Pementasan malam ini menjadi sajian istimewa karena 63 siswa internasional dari 15 negara yakni Indonesia, Tiongkok, Rwanda, Yaman, Thailand, Malaysia, Republik Cheko, Venezuela, Lithuania, Romania, Koera Selatan, Mesir, Tunisia, Vietnam dan Ethiopia bakal unjuk kemampuan berkesenian dalam berbagai hal.

Para mahasiswa tersebut kini tercatat sebagai siswa internasional di beberapa universitas seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Mereka tampak antusias menampilkan kebolehan baik itu seni dari Indonesia maupun kesenian dari masing-masing negara yang kemudian dikolaborasikan satu sama lain.

Ada tari Jawa, Golek Wiragarini yang dibawakan siswa asal Thailand, Malaysia dan Republik Cheko, ada pula mahasiswa dari Venezuela yang membawakan lagu campur sari. Siswa ISI dari Korea Selatan juga menampilkan musik suling khas negaranya diikuti Tari Rentak Bulian dari Indragiri Hulu yang dibawakan 14 siswa UAD dari Mesir, Tunisia, Thailand, Tiongkok dan Vietnam.

Nada meleset kerap terdengar, gerakan tari yang kurang kompak juga tak jarang terlihat. Namun para mahasiswa yang berasal dari berbagai macam kebudayaan tampak menikmati dengan asyik sebagai sebuah akulturasi budaya yang penuh pesan damai.

Kentalnya pesan damai semakin terlihat ketika muncul cerita dari Ali dan Abdullah, kakak beradik asal Yaman yang bertahun-tahun tak bisa kembali ke kampung halamannya. Mereka terpaksa berpisah dari orangtua dan saudara serta kehilangan rumah harta benda karena perang yang pecah beberapa tahun terakhir.

“kami belajar di sini sudah 3,5 tahun dan 6 tahun tidak bisa pulang ke Yaman karena sedang dalam situasi perang. Kami di sini berharap akulturasi budaya bisa menghilangkan kekerasan, jangan ada lagi perang karena semua merasakan kerugian,” ungkap Ali yang didampingi Indro Kimpling.

Pentas malam meriah pun diakhiri oleh penampilan luar biasa dari Internasional Program Dance Club UII yang menyuguhkan Tari Saman asli Aceh. Mahasiswa gabungan dari berbagau daerah seperti Yogyakarta, Pekalongan, Samarinda, Bengkulu, Semarang, Pontianak, Kepulauan Riau, Purworejo, Aceh, Palembang, Klaten hingga Sangatta mampu mengundang decak kagum seluruh hadirin yang berkumpul di Kampayo.

“IPDC UII ini pada tahun 2017 berhasil meraih Juara 1 Kompetisi Folks Dance Internasional di Rusia. Kami sengaja tampilkan terakhir agar semakin mengunspirasi anak-anak luar negeri agar selalu kangen kembali ke Yogyakarta, ke Indonesia dan membawa kisah positif bagi keluarga atau teman. Ini semacam diplomasi budaya,” ungkal pemrakarsa acara, Indro Kimpling. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI