‘Setan Jawa’, Inovasi Kreatif Garin Nugroho

ENERGI kreatif seperti tak pernah kering mengalir dari sosok sineas kondang Indonesia, Garin Nugroho. Eksplorasi ladang ide inovatif Garin kembali terlihat dalam karya terbarunya, 'Setan Jawa', sebuah film bisu hitam putih dengan iringan langsung orkestra gamelan, yang mengangkat tema dunia mistik.

'Setan Jawa' menandai dedikasi Garin selama 35 tahun berkarya di industri film. Garin menyebut 'Setan Jawa' sebagai penanda perjalanan estetik. Proses produksi film yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation itu memakan waktu dua tahun. Dia berkolaborasi dengan seniman dari beragam latar belakang, seperti sinema, teater, tari, musik, fashion, sastra, hingga visual art.

"Menurut saya ini film pertama di dunia yang diiringi gamelan secara live, dengan visual tari hitam putih selama satu jam lebih. Bagi saya ini merupakan terobosan dalam bentuk yang akan membuka peta baru, minimal untuk diri saya," kata Garin, dalam pemutaran 'Setan Jawa'  di Auditorium Sanata Dharma Yogyakarta, Minggu (21/5/2017) petang.

Dengan iringan orkestra gamelan yang dikomposisi seniman gamelan kawakan Rahayu Supanggah, film berdurasi 73 menit itu membawa penonton dalam suasana mistis di Jawa pada era kolonial Belanda tahun 1920-an. Suatu era ketika industrialisasi menyisakan kemiskinan di Jawa, memicu tumbuh suburnya cara mistik meraih kekayaan, yaitu dengan pesugihan. "Saya tertarik mengangkat tema mistis, karena seluruh bentuk seni Indonesia terbesar dimulai dari mistisisme," ujar Garin.

'Setan Jawa' mengisahkan pemuda miskin Setio (diperankan Heru Purwanto), yang memutuskan mencari pesugihan kandhang bubrah untuk mendapatkan kekayaan. Jalan sesat itu ditempuh Setio setelah lamarannya ditolak keluarga Asih yang berdarah bangsawan. Setio pun menjadi kaya, dengan kompensasi rumahnya selalu rusak dan jasadnya setelah meninggal menjadi tiang penyangga rumah.

Setio berhasil menikahi Asih dan pasangan itu hidup saling mencinta, namun belakangan Asih mengetahui suaminya menjalani laku pesugihan. Ketika suaminya sakit keras dan rumahnya makin rusak, Asih menemui setan pesugihan untuk memohon pengampunan. Tragedi cinta terjadi, lantaran si setan jatuh hati pada Asih dan meminta kenikmatan tubuhnya sebagai imbalan pengampunan.

Garin menuturkan 'Setan Jawa' terinspirasi film bisu horor klasik 'Nosferatu' (1922), serta dari pertunjukan wayang kulit. Menurut sineas yang bulan depan genap 56 tahun itu, estetika wayang kulit pada pada dasarnya seperti film bisu, baik dari arah pandang, pakeliran, kontinuitas, close up dan wide jarak wayang dari layar.

"Wayang kulit sendiri esensinya adalah film bisu, kan cuma layar bayangan dan gamelan di depannya. Kita padukan kultur wayang dan film bisu, serta kultur gamelan sebagai musik pengiring. Lalu aspek bahasa tubuh, film ini menggunakan bahasa (gerak) wayang dalam percakapan bisunya," urai Garin.

Sebelum Yogyakarta, 'Setan Jawa' telah dipentaskan di Jakarta pada September 2016, kemudian mengawali world premier di Melbourne, Australia pada Februari lalu. tahun ini 'Setan Jawa' juga akan dipentaskan di Amsterdam (Belanda), Singapura dan London (Inggris). Menariknya, di setiap kota mancanegara itu 'Setan Jawa' akan dipentaskan berkolaborasi dengan orkestra simfoni atau musik kontemporer.(Bro)

BERITA REKOMENDASI