Tradisi dan Kehidupan Modern Jangan Dipisahkan

KEHIDUPAN dunia sastra di Yogyakarta dalam kondisi yang baik. Bahkan jika dibanding dengan daerah lain, kasusastraan di Yogya masih lebih unggul meski seperti berada di jalan sepi. Dalam kondisi inilah media punya peran penting untuk mengembalikan dunia sastra pada tempatnya.

Selain itu, pegiat sastra juga jangan sampai hanya terpaku pada sastra moderen saja. Tapi juga merangkul sastra tradisi yang sebetulnya tidak berhenti karena terus ada penciptaan-penciptaan baru yang mengikuti perjalanannya.

"Jangan hanya meminta untuk melestarikan sastra tanpa ada upaya memfasilitasi. Dalam hal ini peran pemerintah juga dibutuhkan sebagai fasilitator dan regulator. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk melestarikan sastra di Yogyakarta. Salah satunya dengan menghadirkan media berbahasa Jawa yang menjadi basis untuk mempelajari kearifan Jawa," tegas budayawan Indra Tranggono dalam FGD Dewan Kebudayaan DIY bertajuk 'Strategi Kebudayaaan Yogyakarta: Memadukan Sastra Klasik dan Moderen' di Pendopo Gamelan Yogyakarta, Senin (29/8/2016) malam.

Dikatakan Indra, kebudayaan terkait erat dengan habitat. Sementara manusia tumbuh karena habitat atau kebiasaan yang dilakukan. Demikian pula dunia sastra akan tumbuh subur ketika kebiasaan bersastra di masyarakat juga baik.

Sementara narasumber lain Prof Dr Faruk HT SU menuturkan antara klasik dan moderen masih dimaknai sebuah pertentangan di masyarakat. Klasik yang diidentikkan dengan tradisi sering dianggap irasional. Padahal pikiran tersebut ditanamkan pemerintahan kolonial yang menganggap tradisional ketimuran sebagai hal klasik dan orientalisme barat sebagai modernitas.

"Padahal tradisi dan modernitas bagian kebudayaan dalam masyarakat. Semua berjalan dalam ruang yang sama dan tidak terpisah," ucap Faruk. (M-5)

 

BERITA REKOMENDASI