Tradisi Payung Teduhkan Taman Balekambang

SOLO (KRjogja.com) – Sejumlah negara di belahan Eropa dan Asia ikut mengeksplorasi tradisi payung di negara masing-masing dalam Festival Payung Indonesia (FPI) ke-3 di Taman Balekambang Solo selama tiga hari mulai jumat (23/9/2016). Mereka tak saja memamerkan karya payung dari negara masing-masing, tetapi juga menggelar workshop serta mengkolaborasikan dengan seni pertunjukan.

Selain beberapa negara manca, seperti Mexico, Inggris, Jerman Jepang, Singapura, Brunei Darussalam dan sebagainya, jelas Ketua pabnitia FPI, Heru Prasetyo, beberapa daerah di Indonesia juga ikut berpartisipasi, diantaranya Tasikmalaya, Talawi, Makasar, Lampung, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Riau, Bali, dan lain-lain. Sebagian karya yang disajikan merupakan payung tradisional, tambahnya, kepada wartawan, di Balekambang, Kamis (22/9/2016) sebagian lagi menampilkan payung kreasi yang lebih condong sebagai sebuah karya seni.

Dalam catatan sejarah, hampir seluruh negara di dunia pernah memiliki tradisi payung, meski sejauh ini asal muasal payung belum diketahui secara pasti. Dalam perkembangannya kemudian, payung tradisional mulai tergeser industri massal payung yang lebih yang lebih mengarah pada fungsional sebagai pelindung dari sengatan matahari dan guyuran hujan. "Dari situlah, sejak tiga tahun lalu, Kota Solo mengeksplorasi payung dengan menggelar event tahunan FPI, dengan membuka ruang kreatif mengeksplorasi payung sebagai sebuah karya seni, tanpa harus meninggalkan akar tradisinya," ujar Heru.

Mulai tahun ini, proses kreatif lebih dieprluas, dengan menempatkan tradisi payung sebagai sumber inspirasi penciptaan karya pertunjukan, bauik musik, tari ataupun genre kesenian lain. Sedangkan beberapa seni pertunjukan yang disuguhkan dalam FPI kali ini, diantaranya 'Udine, Bidadari di Dalam Laut', karya Mai Kikuchi (Jepang), 'Hati Tertawan', suguhan delegasi Brunei Darussalam, 'Elsewhere' karya Anna Thu Schmidt (Jerman), Sandhya Suresh (Singapura), Leon Gilberto Medellin (Mexico).

Dari dalam negeri, tampil pula sejumlah seniman musik dan tari, seperti Ni Putu Eka Laksmi (Bali) yang mengetengahkan nomor tari 'Rwe Bhineda', Nungki Nurcahyani (Yogyakarta) mebnawarkan 'Aura Cinta', Annisa Maharani (Surabaya) menampilkan 'Mamayu', Sri Gembala Laksamana (Riau) menyuguhkan 'Lenggang Dare Siti Payung', dan lain-lain. Mereka akan mementaskan karya masing-masing dalam panggung alam di sekitar Taman Balekambang yang merupakan taman peninggalan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkoenagoro IV. (Hut)

BERITA REKOMENDASI