Usung Black Sun, Tari di Atas Wajan

SOLO (KRjogja.com) – Seniman besar asal Solo, Sardono W Kusumo memboyong karya-karyanya yang dikemas dalam tajuk Sardono's Retrospective, pada Singapore International Festival of Arts (SIFA) 2016 selama 16 hari mulai Kamis (11/8/2016) hingga Sabtu (27/8/2016). Tak saja karya tari, mantan rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Jakarta ini, juga akan mengusung karya-karya film dokumenter, serta karya lukis pada event bergengsi yang berlangsung di Malay Heritage Center, Singapura.

Pemanggungan selama 16 hari akan dibagi dalam tiga sesi, jelas Sardono W Kusumo, diantaranya pemutaran film dokumenter garapan sejak tahun 1970-an, live pinting yang mengkolaborasikan seni lukis dan tari, serta tari kontemporer bertajuk Black Sun. Pada sesi live pinting, tambahnya menjawab wartawan, di sela latihan terakhir di aula RM Kusuma Sari, Selasa (9/8/2016), dia akan mendemonstrasikan melukis pada kanvas raksasa setinggi 20 meter dengan lebar 4 meter. Tidak sekadar melukis dengan teknik unik, live pinting juga sebagai bentuk performance dengan mengkolaborasikan olah tubuh.

Pada sesi terakhir sekaligus penutupan rangkaian SIFA 2016, Sardono menyajikan nomor tari Black Sun selama dua malam beturut-turut pada Jumat (26/8/2016) dan Sabtu (27/8/2016), dengan melibatkan seniman multi kultur, diantaranya dari Papua. Karya baru Sardono berjudul Black Sun terinspirasi dari peristiwa gerhana matahari total yang begitu spektakuler dan mengakibatkan dunia gelap gulita meski hanya dalam tempo beberapa menit.

Konsep dasar tersebut, dituangkan dalam tari yang menggambarkan kaum imigran yang selama ini terkatung-katung di laut, tak lagi memiliki kampung halaman, negara, bahkan nasib yang serba tak jelas. Mereka seperti berada pada peradaban yang tidak jelas, berkelana menggunakan perahu tanpa tujuanm kecuali berharap suatu saat tiba di sebuah daratan yang belum tentu menjanjikan hidup dan kehidupannya.

Mengaktualisasikan ketidakjelasan kaum imigran ini, Sardono memilih wajan besar yang biasanya digunakan untuk menggoreng kerupuk sebagai lantai pijak para penari. Wajan merupakan metafora dari kehidupan tanpa pijakan yang selalu bergerak nyaris tanpa ujung. Sejak awal hingga akhir petunjukan, seluruh penari berada di atas wajan sambil berolah tubuh mengisyaratkan manusia-manusia perahu pemburu kehidupan baru yang tidak pernah diketahui secara pasti. "Sungguh ini sebuah tragedi kehidupan kaum imigran yang sekarang kian banyak, menyisakan pesoalan tersendiri," ujarnya. (Hut)

BERITA REKOMENDASI