Whani Darmawan Jajal Ikuti Pameran Lukisan

Editor: Agus Sigit

WHANI Darmawan, nama yang sudah tak asing lagi di dunia teater dan perfilman. Laki-laki kelahiran 24 Mei 1966 ini, juga produktif menulis. Karyanya sudah banyak dibukukan, sedangkan kemahirannya berakting tak diragukan lagi.

Lihat saja, ketika ia berperan sebagai Darsam dalam film ‘Bumi Manusia’ besutan sutradara Hanung Bramantyo, begitu mendalami karakter tokoh berlatar belakang Madura itu. Wajar kalau kemudian Whani banyak memperoleh nominasi. Pada tahun 2019 ia mencatat prestasi gemilang dengan menyabet Piala Citra FFI sebagai the best suporting actor melalui film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ karya Garin Nugroho.

Kini, Whani Darmawan akan membuka dan mengikuti pameran lukisan bersama yang diadakan kelompok Parkiran.

Kelompok Parkiran sendiri adalah komunitas seni yang muncul dan tumbuh di ingkup FSRD ISI Yogyakarta sejak masih berkampus di Gampingan Wirobrajan Yogya.

Dalam keterangan persnya yang diterima KRkogja.com, Whani menyebutkan, tak jelas betul tanggal dan tahun pastinya Kelompok Parkiran lahir. Mereka menamakan diri Parkiran sebagaimana harfiah tempat berkumpul mereka di area parkiran.

Kelompok yang tak diniatkan sebagai komunitas gerakan seni ini sejak awal terbangun oleh kekentalan kekerabatan antar teman tanpa mengkotak-kotakkan jurusan (grafis, murni, disain, dan lain-lain).

Inilah yang kemudian mendasari spirit pameran ’40+Alive’, yakni pameran rupa, tak peduli apakah rupa tersebut drawing atau lukisan (sesuai deskripsi lama).
Pameran berlangsung dari 16-31 Mei 2022 di studio Perum Parangtritis Graha Yasa I Blok A4 Tarudan Bangunharjo Sewon Bantul.

Ketika ditanya tentang kapan Whani Darmawan mulai melukis? Bagaimana ceritanya? Whani tidak pernah menempuh pendidikan formal dalam seni rupa. Ia hanya mengembangkan bakatnya yang sejak kecil ada secara otodidak. Hal itu dipicu oleh suatu acara di Peace Village (PV), yakni suatu public space yang dimiliki Yeni Wahid, September 2021. Setelah itu, menekuni diri dalam mengembangkan hobinya dengan membuka ruang konsentrasi alias studio di rumahnya di kawasan Nitiprayan Yogyakarta yang diberi nama Studio Atas Angin, karena posisinya di lantai dua.

Sampai kini ia telah mengantongi 100an buah penanda proses dari berbagai ukuran dan corak. Terbanyak adalah eksplorasi tinta cina di atas kertas. Dua karyanya yang kali ini diikutkan pameran berjudul ‘A Fallen Angel’ dan ‘Blackpink Sock.’.

Menurut amatan kurator senirupa Heri Kris gaya lukisan Whani bercorak abstrak, meski Whani sendiri belum yakin karena ia merasa masih panjang perjalanan dalam bereksplorasi melalui media senirupa. Kalau ditanya kenapa Whani melukis jawabannya,

“Untuk mengembangkan talenta diri dan mendapatkan kesenangan. Bukan untuk beralih profesi. Jadi kalau suatu saat saya kehilangan kesenangan ya mungkin saya akan berhenti melukis.”

Whani Darmawan berpameran bersama puluhan perupa yang mayoritas lulusan FSRD ISI Yogya. Mereka Titoes Libert, Agapetus Christian Dana, Agung Bajag Sumanto, Ahmadsyalabihifni, Alexander Jedhink, Anon Anindito, Aria Sukma, Bambang Girindra, Bonita Margaret, Frederic Andreas Atjis, Joko Gundul Sulistiono, Kurnia ‘Suyar’ Setiawan, Moch Bashori, Ndaru Ranuhandoko, Norman Hendrasyah, Nurul ‘Acil’ Hayat, Ponco Widianto, Septiawan Wawan ‘Cimenk,’ Zulkarnain ‘Nanang’ FM. Dengan kurator Kumbo Adiguno dan Yosa Batu Prasada. (Obi)

 

 

BERITA REKOMENDASI