Maria Stephanie dan Pangan Lokal

MARIA Stephanie awalnya tidak menekuni secara khusus pangan lokal. Ia lebih tertarik pada kuliner sehat yang berkiblat ke barat. Keikutsertaannya pada sebuah konferensi pemuda internasional tentang tempe membuat perempuan kelahiran Pekanbaru 3 Januari 1989 ini meluaskan cara pandanganya. Kini bukan hanya jatuh cinta pada ragam pangan lokal, ia juga mengembangkan usaha kuliner sehat bersama kawannya.

Menurut Steffi, sebelum berkenalan dengan pangan lokal ia memang lebih tahu tentang pangan sehat yang mengacu ke barat. Hal itu berangkat dari pengalaman hidupnya. Ia datang ke Yogyakarta di usia 14 tahun setelah sebelumnya tinggal di Riau. Selepas SMA ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Teknik Kimia Universitas Nottingham (kampus Malaysia) serta satu tahun di Universitas Nottingham di Inggris. Otomatis cara pandangnya lebih banyak ke makanan sehat barat.

Alasan Tekuni Pangan Lokal

Saat menempuh studi di Malaysia itulah ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pertukaran mahasiswa ke Inggris selama satu tahun. Di negara tersebut ia dengan mudah mendapatkan makanan sehat seperti salad dan sandwich.

“Ada dua alasan terkuat kenapa kemudian saya menekuni pangan lokal. Pertama, keragaman pangan di Indonesia sangat tinggi. Kedua, kalau gak kenal pangan lokal, kapan petani Indonesia bisa sejahtera, mosok makanan sehat kudu impor mulu,” kata lulusan SMA Bopkri 2 Yogyakarta ini.

Soal pangan sehat, Steffi sangat kritis. Misalnya, saat ia melihat adanya poster berjudul Sistem Kekebalan Tubuh dan Covid-19 di media sosial yang berisi panduan gizi seimbang dari sebuah rumah sakit di Jakarta. Ia menyoroti daftar menu makanan yang menurutnya sangat absurd untuk dipraktikan masyarakat kebanyakan.

Ada menu makanan yang dalam sehari jenisnya beragam, bahkan mencapai 6 menu berbeda. Selain itu dalam contoh makanan ‘boosting’ kekebalan tubuh disebutkan contoh bahan-bahan makanan yang sulit dijangkau masyarakat kebanyakan, misal buah aprikot dan ikan salmon.

“Mungkin ada orang yang punya biaya, waktu dalam sehari menu bisa sangat beragam seperti itu, tapi mayoritas punya kendala waktu, sumber daya uang dan bahan-bahan, menurut saya itu tidak realistis,” ujarnya.

Usai menyelesaikan gelar sarjananya, Steffi kembali ke Yogyakarta. Perjumpaannya dengan orang-orang yang bergelut di pangan organik, memperkaya cara pandangnya terhadap pangan lokal.

Ia lebih tertarik lagi pada pangan lokal saat mengikuti International Youth Conference on Tempe (IYCoT) atau konferensi pemuda internasional tentang tempe di Yogyakarta tahun 2015. Ia makin mengerti potensi makanan sehat berbasis pangan lokal.

Steffi menjadi pemenang lomba poster ilmiah tentang pangan tahun 2019 

“Jadi tempe itu adalah inovasi pangan asli dari Indonesia. Tempe yang sehari-hari kita makan, yang harganya murah meriah ternyata menyimpan segudang manfaat kesehatan. Itu baru aku tahu. Bahkan, orang di luar negeri banyak yang mengenalnya,” ujar Steffi.

Ia memberi contoh, Rustono yang dikenal sebagai produsen tempe di Jepang asal Jawa Tengah saat itu hadir sebagai narasumber konferensi. Di kesempatan itu, Rustono menceritakan bagaimana ia mengenalkan tempe di Jepang bahkan membuka cabang di berbagai negara.

“Saya berpikir makanan yang selama ini dianggap sepele ternyata sudah banyak yang melirik. Menumbuhkan sebuah pride, kebanggaan. Saya kemudian tertarik untuk mengulik pangan-pangan lokal yang lain, mulailah saya berkenalan dengan sorgum, bihun garut, dan lainnya,” katanya.

Letusee, usaha kuliner yang ia kembangkan bersama temannya, Nuha, semula hanya menyediakan menu salad dan sandwich kemudian berkembang dengan membuat menu-menu sehat berbasis pangan lokal.

Ketertarikan Steffi terhadap pangan khususnya kuliner sejatinya sudah berlangsung sejak kecil dari hobinya menonton acara memasak di televisi. “Skill masak semakin terasah karena kuliah yang mengharuskan mandiri,” ujarnya tertawa.

Perdalam Ilmu Pangan di Australia

BERITA REKOMENDASI