Menjaga Pluralisme dalam Dakwah Kebangsaan Muhammadiyah

HADI SUTRISNO dan Syafii Latuconsina terdiam. Kampong terlihat kosong melompong, seakan tak ada kehidupan. Upayanya berangkat pagi-pagi sepertinya sia-sia. Apa yang ditemui di Long Keluh Kecamatan Kelay membuat pikirannya letih. Padahal badannya sudah letih dari perjalanan yang cukup jauh.

Subuh baru lewat sedikit ketika meninggalkan basecamp di Tanjung Redep, ibukota Kabupaten Berau. Dan perjalanan ke kampung Long Keluh memakan waktu sekitar 3 – 3,5 jam kalau lancar.

Dalam pikiran keduanya, sekitar pukul 09.00 sudah sampai dan pertemuan bisa dimulai sesuai perjanjian, pukul 10.00. Ternyata di perjalanan ada hujan dan jalan licin berlumpur, membuat terhambat. ”Kami sampai di desa sudah hampir pukul 13.00 dan warga sudah ke hutan, karena ada warga yang membuka lahan,” jelas Hadi.

Hadi adalah Asisten Ahli dalam program Kemakmuran Hijau yang diselenggarakan Majelis Pemberdayaan Muhammadiyah (MPM) di Kabupaten Berau Kalimatan Timur.  Sedang Syafii adalah Konsultan MPM PP Muhammadiyah.

Mereka sudah membuat janji, namun  realita di lapangan membuat keduanya tidak bisa berbuat apa-apa. Jam perjanjian telah dilampaui.

Masyarakat di sini ungkap Hadi, masih memegang teguh adat. Ketika ada warga yang membuka lahan, semua warga akan ikut ke hutan. “Kalau tidak ikut gotongroyong, ia akan kena denda. Denda uang dan denda sosial itu luar biasa pengaruhnya,” ungka Hadi.

Karenanya, Hadi maupun Syafii memaklumi. Mereka pun menunggu dan mengajari bikin pupuk kocor harus keesokan hari, mundur sehari dari jadwal yang ditentukan.

Perubahan rencana membuat kami sebut Hadi Sutrisno, harus menginap. “Malam itu kami diberi tempat untuk tidur di kediaman Ibu Gembala. Dan Ibu Gembala kemudian menyiapkan tempat yang baik bukan hanya untuk tidur, namun untuk menjalankan salat,” ungkap Hadi tanpa menyembunyikan haru.

Sementara di lain waktu Wakil Program Manajer Kemakmuran Hijau Zen Al Wahab dengan sabar menunggu warga Siduung Indah dan Batu Rajang di Kecamaan Segah.  Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, kegiatan belum bisa mulai.

Sebagian besar yang lain masih beribadah di gereja. Hari itu,  Minggu dan sebagian masyarakat Dayak Kenyah adalah Protestan.

“Ada dua gereja, dengan jam peribadahan yang berbeda. Saya tentu harus menunggu mereka agar sosialisasi bisa dilaksanakan bersama.  Hari itu sesuai kesepakatan jadwal, saya akan menjelaskan pengembangan hasil hutan non kayu. Menjelaskan tahap-tahapnya. Dan ini penting sehingga harus melibatkan seluruh warga. Karena untuk menyepakati pentingnya lokasi demplot,” jelas Zen.

Usai beribadah di gereja, tentu harus pulang dulu. Berganti pakaian dan mungkin sarapan, baru mendatangi pertemuan.

Pertemuan berlangsung lancar, Zen kemudian gelisah. Waktu duhur hampir habis dan pembicaraan masih lama. Meski bisa dijamak dengan Ashar, namun ia belum melihat di dekat lokasi mana tempat yang bersih.

“Mas kalau mau istirahat dan sembayang dulu, sudah kami siapkan tempat yang bersih, di bagian samping gereja,” ungkap seorang warga yang membuat Zen merasa terharu.

BERITA TERKAIT