Anak Petani di Batusangkar Ini Raih ‘Summa Cumlaude’ di UNY

ZEFKI Okta Feri menyandang predikat Summa Cumlaude atau IPK sempurna, 4,0 dalam wisuda jenjang S2 di Universitas Negeri Yogyakarta yang berlangsung hari ini, Sabtu (30/11/2019). Zefki adalah anak petani kecil di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Butuh waktu berjam-jam bagi kedua orang tua Zefki, Hendri Nofdi dan Eli Yurda apabila hendak menjual hasil bumi ke kota. Zefki sejak sekolah mahir berbahasa Inggris. Ia yakin bahwa dengan menguasai Bahasa Inggris, maka cakrawala pengetahuan sekaligus peluang untuk keluar negeri makin terbuka.

“Saya sejak kecil ingin menengok negeri lain. Walaupun negeri seribu surau tempat saya tinggal ini, juga tak kalah elok,” kenang Zefki.

Oleh karena itu saat S1, ia mengambil studi Pendidikan Bahasa Inggris di STAIN Batusangkar. Tak jauh dari rumahnya. Semangat studi dengan asa ingin ke luar negeri ia tunaikan hingga akhirnya menjadi lulusan terbaik universitas tersebut di tahun 2015. Lulus dengan IPK nyaris sempurna: 3,99.

Gagal Kuliah ke Luar Negeri dapat Beasiswa LPDP

Sudah mahir berbahasa Inggris, ternyata impian Zefki ke luar negeri belum direstui Allah. Ia memang sempat mencoba mendaftar beasiswa kuliah ataupun pertukaran pelajar ke Australia. Tapi belum lolos.

Akhirnya, Zefki menjadi instruktur TOEFL. Ia bekerja di Bekasi. Disana ia banyak mengajar anak-anak, profesional, hingga orang dewasa yang hendak pergi ke luar negeri. Setidaknya melalui profesi tersebut, kenang Zefki, ia bisa mengantar orang untuk menengok negeri lain.

“Saya melatih orang untuk menengok negeri lain. Tidak apa-apa. Belum rezeki saya menengok negeri lain,” kenang Zefki.

Zefki memperoleh penghasilan yang cukup baik di Bekasi. Dengan pendapatannya ia bisa meringankan beban kedua orang tua yang berprofesi sebagai petani kecil di Batusangkar. 

Walaupun demikian, Zefki merasa menjadi instruktur TOEFL kurang menantangnya. Karir juga relatif stagnan. Zefki masih ingin mengejar asanya untuk pergi ke luar negeri.

Salah satu cara ke luar negeri yang cukup mudah menurutnya, adalah menjadi guru besar. Akhirnya, Zefki mendaftar beasiswa LPDP untuk menempuh jenjang S2 di Linguistik Terapan UNY. Ia diterima!

“Saya sampaikan kepada orang tua bahwa kalau bekerja jadi instruktur TOEFL, hidup begini-gini saja. Orang tua geleng-geleng, tapi akhirnya merestui saya. Alhamdulillah saya memperoleh beasiswa LPDP dari Pemerintah,” kenang Zefki.

Zefki juga hidup murni dari uang saku beasiswa. Berbeda dengan masa kuliah yang masih bersama orang tua sehingga tidak begitu banyak pengeluaran.

Beruntung, teman dan dosen Zefki semuanya suportif. Banyak ahli di bidang linguistik ia temui di sini. Diskusi dalam mengerjakan tesis bahkan dilakukannya hingga ke UNS, menemui dosen dan rekan sejawat di Solo.

“Sangat mudah akses Solo-Jogja. Di Jogja saya kira segala fasilitas dan kebaikan ada. Tapi kalau mau cari yang tidak baik, juga ada. Alhamdulillah saya dapat beradaptasi dengan baik,” kenang Zefki.

Analisa Hasil IELTS Dosen UNY, Antar Zefki Raih IPK Sempurna

Zefki akhirnya menulis tesis tentang fungsi sistemik kebahasaan. Ia menganalisis hasil IELTS (tes bahasa Inggris) puluhan dosen dan civitas UNY untuk merumuskan cara terbaik mengajar IELTS bagi mereka. Tesis inilah yang mengantarkan Zefki menyabet IPK 4,0.

“Support dosen cukup besar. Ditunjukkan kemana harus akses ke pengetahuan yang saya bidangi. Menghubungi siapa, membaca jurnal apa,” kenang Zefki.

Sejak September lalu, Zefki telah diberi amanah untuk mengajar di STTA Adi Sucipto. Sekolah penerbangan di bawah TNI Angkatan Udara. Amanah tersebut adalah sebuah kehormatan bagi Zefki karena ia bisa mengabdikan ilmunya sekaligus bermanfaat bagi institusi negara.

“Secara insentif dan suasana mengajar, juga baik. Anak STTA kedisiplinannya tinggi. Apalagi di STTA, kuliahnya siang dan sore hari. Jadi saya bisa paginya belajar, sorenya mengajar,” ungkap Zefki.

Kedepan, Zefki tak ingin berhenti belajar. Ia ingin melanjutkan S3 ke Australia. Untuk mewujudkan asa tersebut, ia mencari seribu jalan agar memperoleh beasiswa penuh seperti yang ia dapatkan saat S2 di UNY.

“Cita-cita panjang saya jadi guru besar. Jadi kalau ada kesempatan, ya lanjut S3 lagi. Negara yang menyediakan S3 tentang systemic functional linguistik, adanya di Australia. Semoga bisa menengok negeri lain,” pungkas Zefki.

Atas pencapaian tersebut, Prof. Sutrisna Wibawa selaku Rektor UNY berpesan pada Zefki, dan seluruh wisudawan untuk bersyukur. Sekaligus berterima kasih kepada semua orang yang selama ini berjasa, membantu, dan membiayai.



“Ingatlah, mendapatkan gelar baru yang disematkan pada nama bukan akhir dari segalanya. Welcome to the real world dan semoga bermanfaat untuk keluarga anda dan negara!” pesan Sutrisna. (Ilham Dary Attalah)

BERITA REKOMENDASI