Mendunia, Batik TilaseRon Asal Maitan Memanfaatkan Dedaunan

HIDUP di daerah gersang, seperti di Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati memaksa warganya harus mampu berpikir cerdas agar bisa mendapat penghasilan. Itulah yang dilakukan Dian Mayasari (35). Ibu dari dua putri ini, akhirnya mampu menperkenalkan sebuah industri kain batik Tilaseron. Yakni sebuah karya yang terbuat dari limbah daun (tilas ron), yang kini mulai mendunia.

Kisah perjuangan Dian Mayasari diawali tahun 2002 saat diboyong suaminya dari Blora ke Dukuh Pagergunung, Desa Maitan. "Keadaan sangat mengenaskan. Air hanya mengandalkan pada musim hujan. Banyak warga merantau keluar Jawa. Karena disini tidak ada sumber penghidupan yang memadai," tutur Dian, kepada KRJOGJA.com, akhir pekan ini. 

"Setiap malam saya berdoa. Menangis kepada Tuhan, semoga Desa Maitan diberi keberkahan" tambahnya sambil menyeka matanya yang mentes di pipinya. 

Seiring perjalanan waktu, lalu Dian menemukan ide untuk membuat kain batik dari sistim ecoprint, yakni memanfaatkan daun (ron) dan dahan sebagai bahan membuat kreasi batik yang khas. Perempuan keturunan suku Samin (dari jalur Klapa Duwur Blora) ini, kemudian mengajak remaja putri desanya membentuk organisasi pemberdayaan, yang diberi nama Mulya Jaya. 

"Kami bikin batik TilaseRon. Berasal dari kata 'tilase' yang berarti tapak, dan 'Ron' atau daun. Jadi, artinya batik tapakdaun," ucap Dian. 

Keunikan proses pembuatan batik TilaseRon, tanpa menggunakan lilin. Namun menggunakan steam, yakni dengan cara dikukus. Dan di founding, atau dengan cara dipukul-pukul dengan palu. Cara ini adalah untuk memanjakan konsumen dalam memilih tapak daun yang diinginkan. 

Kemunculan Tilaseron, memberikan pilihan lain bagi penggemar kain batik, yang semula meminati jenis batik Solo, atau Pekalongan. 

"Per hari baru bisa membuat 8 potong kain batik. Karena pengerjaannya membutuhkan ketelitian dan kesabaran" kata Dian sambil menyebutkan bulan Agustus lalu, karya ciptanya mampu menyabet juara dua dalam event pameran batik nasional di Bandung.

"Kini remaja Desa Maitan semakin bersemangat membuat batik TilaseRon, karena karyanya mulai diminati pasar internasional," katanya. (Cuk)

 

BERITA REKOMENDASI