Sunarno, Sang Legenda Bulutangkis Yogyakarta

Editor: KRjogja/Gus

DALAM dunia olahraga, senantiasa setiap masa akan melahirkan legenda, baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional. Hal itu pula yang bisa dirasakan di atmosfir olahraga tingkat daerah, salah satunya di Yogyakarta. Di cabang olahraga sepakbola, Yogyakarta memiliki legenda bernama Melius Mau, yang sukses sebagai pemain dan pelatih.

Demikian pula di cabang olahraga bulutangkis, Yogyakarta memiliki legenda bernama Sunarno (65), yang sama-sama sukses ketika menjadi pemain maupun pelatih. Tak bisa dipungkiri paruh waktu tahun 70-an hingga 90-an, dinamika bulutangkis Yogyakarta tidak bisa mengesampingkan nama Sunarno. Di nomor tunggal dan ganda, mulai kelas pemula, remaja, taruna , dan dewasa, Sunarno selalu naik ke podium sebagai juara, entah juara I, II maupun III.

Bermain bulutangkis sejak usia 13 tahun, Sunarno ditangani pelatih bertangan dingin Djiman Santosa yang dianggap sebagai ‘bapak’ bulutangkis Yogya. Nama-nama besar pebulutangkis Yogya yang berhasil masuk ke level nasional, sebagian besar pernah merasakan polesan Djiman Santosa. “Selepas bermain di PB KIM, saya pindah ke PB Sinar Mataram,” jelas Sunarno kepada KRJogja.Com, Minggu (17/01/2021).

Semasa masih bermain di tingkat pemula dan remaja, saat itu di Yogya ada beberapa klub, di antaranya PB Sinar Mataram, PB Sakti, PB Mensacosa, PB AEC, PB Pancing, PB Setia Kawan, PB Bintang Selatan, dan PB Elang. Model pusat pendidikan dan latihan (pusdiklat) pada masa itu belum ada. Tetapi justru di Yogya ada Sekolah Bulutangkis/Persatuan Bulutangkis (SB/PB) Sinar Mataram. Nantinya setelah cukup lama di PB Sinar Mataram, Sunarno ‘mendua’ ke PB Setia Kawan. Seingat Sunarno, dirinya meraih prestasi pertama kali pada tahun 1971 saat pertandingan tingkat SLTP, Tahun-tahun berikutnya, gelar juara tidak pernah lepas dari tangannya, baik di nomor tunggal maupun ganda.

Sunarno mencoba mengenang pemain seangkatannya yang silih berganti adu ketangkasan di berbagai kejuaraan tingkat DIY, antara lain Zainal Arifin, Panut, Kaling, Sugiyono (Bengkong), Hanggoro, dan Ko Tiong (Sutiyono). “Dengan Zaenal Arifin, menang kalah silih berganti ketika bermain di tunggal. Tetapi anehnya, prestasi di nomor ganda putra selalu saya raih bersama Zaenal Arifin,” ucap Sunarno. Meski demikian, di level nasional, Sunarno lebih berprestasi ketimbang Zaenal Arifin.

BERITA REKOMENDASI