Tunggu 30 Tahun, Alat Rontgen Hasil Penelitian Dosen UGM Akhirnya Diproduksi

RISET sangat lama sejak tahun 1989 yang dilakukan Dr. Gede Bayu Suparta, seorang Peneliti Departemen Fisika FMIPA UGM ternyata tak sia-sia. Sebuah alat Radiografi Sinar-x Fluoresens Digital (RSFD) yang diberinama Madeena, akhirnya diproduksi untuk kali pertama dan diresmikan Jumat (8/11/2019) hari ini, di sebuah pabrik furniture. 

Perjuangan selama 30 tahun Dr Bayu mulai merangkai pikiran hingga menunggu datangnya hak paten ternyata terbayar lunas. Penelitian yang oleh sebagian besar akademisi Indonesia hanya berakhir di jurnal saja, ternyata bisa dibawa hingga ke industri hilir oleh Bayu yang bertemu dengan sebuah perusahaan yakni CV Prestige yang ternyata justru bukan bergerak di bidang alat kesehatan namun furniture. 

Kinerja teknologi RSFD yang diciptakan Dr Bayu ternyata sama dengan kinerja teknologi Direct Digital Radiography (DDR) yang menggunakan flat detektor atau disebut juga Radiografi Flat Detektor (RFD). Fasilitas DDR atau FDR sangat diidamkan oleh semua rumah sakit di Indonesia namun harga piranti yang diimpor dari luar negeri sangat mahal hingga tidak semua rumah sakit dapat memiliki. 

“Di sisi lain, implikasinya adalah biaya yang harus dibayar pasien menjadi tinggi. Kegelisahan inilah yang kemudian membuat Madeena ini diproduksi. Dengan harga yang mungkin tidak dapat apa-apa untuk produk luar negeri, dengan Madeena ini bisa dapat yang kualitasnya baik dan buatan anak negeri, ada plusnya pula artistik karena dibuat dengan sentuhan furniture,” ungkapnya pada KRjogja.com di sela peluncuran. 

Alat yang dibangun dengan harga sekira Rp 1,2 miliar tersebut disebut lebih mudah diakses oleh rumah sakit bahkan fasilitas kesehatan tingkat I. Dampak positifnya, ketika biaya lebih bisa ditekan maka masyarakat yang harus mendapatkan layanan rontgen bisa cepat diambil tindakan dan memiminalisir resiko yang harus dihadapi.

“Kedaruratan terutama yang berhubungan dengan hal membutuhkan foto sinar X ini belum bisa dilakukan oleh fasilitas kesehatan tingkat I, padahal kebanyakan pasien datang pertama ke fasilitas kesehatan tersebut. Akhirnya, penanganannya lama yang dampaknya pada resiko si pasien sendiri. Harapan saya, alat ini bisa dimiliki rumah sakit kecil di daerah atau fasilitas kesehatan agar penanganan pasien bisa maksimal,” sambung dia. 

Alat yang kemudian diberinama Madeena kependekan dari Made in Indonesia tersebut bisa diakses secara real time tanpa harus menunggu cetakan manual film seperti alat rongten konvensional lainnya. Pun begitu, dengan dukungan teknologi komputerisasi, Madeena diklaim bisa diakses dokter terkait yang tak harus berada di lokasi Radiologi. 

“Hitung saja biaya film Rp 60 ribu, otomatis bisa terpangkas. Belum lagi kecepatan tindakan karena hasil foto bisa diakses dari jarak jauh dan dokter yang berkewenangan bisa menyarankan tindakan dengan segera,” lanjut dia. 

Dr Bayu berharap, alat yang kini sudah bisa diproduksi ini bisa digunakan di seluruh wilayah Indonesia mulai dari klinik tingkat pertama dan nantinya terdata dalam pusat data pemerintah. “Kami ingin Jogja dikenal sebagai kota penghasil alat radiografi sinar-x digital terbesar di dunia yang mampu memberikan layanan diagnostik kepada 270 juta penduduk Indonesia,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI