Ulet Jual Gorengan dan Bubur, Rahayu Raih Gelar Dokter

KISAH heroik dalam mengarungi hidup dan menggapai asa, memang menarik. Mengundang simpati dan bahkan empati. Kondisi ini sering dieksplorasi oleh mereka yang ingin memeroleh simpati publik, dengan mempublikasi kisah-kisah heroik mereka.

Tak jarang ada yang mendramatisir menjadi sebuah kisah yang membuat pembaca atau pemirsa hanyut, bahkan tak sedikit meneteskan air mata.Kisah hidup yang dialami drg Rahayu Puji Astuti (37), adalah perjalanan h riil yang dia alami. Sejak kecil dokter yang kini bertugas di Puskesmas Karangreja Purbalingga ini harus menjalani hidup dengan perjuangan dan bahkan cucuran air mata.

“Saya lahir dari perkawinan dengan selisih usia antara bapak dan ibu terpaut jauh. Ketika saya lahir, bapak sudah memasuki usia tak produktif,” katanya membuka kisah.

Masa kecil Ayu, begitu dia biasa disapa, dijalani di Magelang dan Temanggung. “Ada suatu peristiwa keluarga, kami sekeluarga harus menyingkir ke Temanggung. Menempati rumah petak yang jauh dari layak untuk ditempati. Beruntung kami punya tetangga kepala SD Pangudi Utami (sekolah favorit di Temanggung). Lewat kebaikan hati beliau, saya bisa sekolah di sana dengan SPP khusus,” lanjut Ayu sambil menyebut, saat itu SPP umum perbulan Rp 40 ribu. Sedangkan dia dapat keringanan hanya bayar Rp 6 ribu.

Ayu kecil termasuk anak cerdas. Walau keluarganya tengah didera ujian-ujian berat, prestasi belajarnya sangat bagus. Ketika itu ayahnya sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit Semarang. “Saya sering dititipkan ke tetangga,” ujarnya.

BERITA REKOMENDASI