Ulet Jual Gorengan dan Bubur, Rahayu Raih Gelar Dokter

Kegiatannya seharian penuh. Pukul 02.00 dini hari bangun ikut membantu kerja di pejagalan, tempat penyembelihan sapi. Pagi dan siang membantu jualan daging, sore dan malam mendampingi anak-anak sang kakak belajar. Selama tiga minggu Ayu ikut di rumah saudara sepupu, sampai jadwal masuk kuliah.
Sayang, rencana saudara sepupu membantu biaya kuliah, gagal. Sebabnya, saudaraya tersebut medadak sakit stroke. Bahkan kabar yang tersiar, dia stroke karena memikirkan biaya kuliah Ayu. Sebab kiliah di fakultas kedokteran gigi memang dikenal berbiaya mahal.

Setelah masa kuliah dibuka, Ayu ikut numpang tinggal di rumah salah satu keluarga. Namun tak lama, karena ada persoalan, sehingga dia harus cari pondokan lain. Pilihannya ikut nyantri di Pondok Pesantren Krapyak. “Selain memperdalam agama, alasan tinggal di pesantren karena biaya mondok murah. Saat itu perbulan hanya Rp 75 ribu sudah termasuk makan,” ungkapnya.
Demi menghemat biaya hidup di Yogya, Ayu merasa tak masalah meski jarak pondok dengan kampus FKG UGM lumayan jauh. “Tiga tahun di pondok, jelang kelulusan santri, saya keluar. Sebabnya karena saya tidak punya uang untuk membayar iuran pelepasan santri,” ungkapnya.

Keluar dari pondok, Ayu cari kost. Untuk biaya sewa kamar dan makan sehari-hari, dia memberi les privat, jualan buku Iqro, memberi les baca tulis Alquran dan pekerjaan halal lain. Berjalan beberapa lama, kemudian dia merasa honor dari memberi les privat tak sepadan dengan sewa kamar kost. Lalu Ayu ikut numpang tinggal di rumah salah satu saudaranya seputaran Jetis Yogya.

“Saya baru ngerti kalau ada saudara di dekat kampus. Saya tinggal di sana. Tiap hari berangkat kuliah dijemput teman bonceng motor. Dari rumah, dia membawakan bekal makan siang untuk saya. Pokoknya bersyukur sekali ada teman yang baik hati,” tuturmya. Tapi tak sempat lama tinggal di rumah saudara. Ada prahara yang membuat keluarga kerabatnya tersebut bermasalah. Ayu harus keluar dari rumah tersebut.

Singkat cerita, setelah lulus teori, Ayu menjalani pendidikan koas di RSUP Dr Sardjito.Suatu pagi, tiba-tiba dia kejang-kejang. Teman-teman sejawatnya menunggu dan merawat sampai sadar. Setelah sadar, ada salah satu sejawat menanyakan, ada permasalahan apa.

“Saya ceritakan semua kejadian dan kesulitan ekonomi. Ternyata teman saya itu menceritakan apa yang saya alami kepada ayahnya yang seorang profesor. Lalu keluarga mereka memberi saya zakat setiap bulan Rp 200 ribu,” tuturnya serius.

Selain zakat, keluarga profesor tersebut juga meminjami sepeda motor untuk aktivitas. Kebetulan ketika itu ibunya yang jualan getuk di Purwokerto juga sedang ada masalah. Usaha yang semula tumbuh sehari memroduksi 200 kg getuk, hancur karena disabotase karyawan. Ada salah satu pegawai membuat getuk sendiir lalu menjual dengan harga murah dan dijual ke pelanggan orangtua Ayu.
Tak hanya itu, kakaknya yang ikut di rumah sang ibu, terkena masalah hukum akibat ketika ngojek diorder membawa beras. Ternyata itu beras curian.
Lalu Ayu mengajak ibunya tinggal di Yogya sambil jual gorengan. Maka dia cari tempat kos dekat pasar. Pilihannya di Demangan. Setiap hari ayu dan ibunya bikin gorengan dan sambal pecel dijual di pasar Demangan.

Masa pendidikan koas usai, menjelang pelantikan sebagai dokter gigi, Ayu harus menyelesaikan urusan adminsitrasi. “Ketika diterima sebagai mahasiswa baru, saya masih ada kekuangan uang sumbagan Rp 1 juta. Saya datang ke kampus sambil membawa dagangan gorengan. Saya minta dispensasi dan akhirnya diberi dispensasi, kkeurangan uang sumbangan dianggap lunas. Bahkan sisa dagangan yang saya bawa, beliau beli,” kenangnya.
Modal Rp 200 Ribu

Dikukuhkan sebagai dokter gigi pada 2006, bukan berarti penderitaan Ayu berakhir. Dia masih harus berjuang ekstra keras.Dia tak bisa langsung buka praktik, karena butuh tempat dan peralatan mahal.

“Saya hanya punya uang Rp 200 ribu. Kami harus berpikir bagaimana bisa makan untuk orang 6, saya, ibu, kakak bersama istri dan 2 anaknya. Dengan modal minim, bagaimana uang bisa diputar untuk makan sehari-hari,” ungkapnya.

BERITA REKOMENDASI