Uni, Usia 19 Tahun Dirikan TK

BERAWAL dari kecintaan pada dunia anak kecil, enam tahun lalu, Uni Tsulasi Putri yang saat itu baru berumur 19 tahun, memberanikan diri merintis mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK). TK yang didirikannya tidak hanya sekadar mewadahi anak kecil untuk bermain dan belajar tetapi yang terpenting yakni menanamkan pendidikan karakter serta rasa cinta nasionalisme sejak dini pada anak kecil. 

Kepada KRJOGJA.com, Uni Tsulasi Putri (24) menuturkan sejak kecil ia memang suka dengan dunia anak. Awalnya ia prihatin dengan banyaknya anak usia dini di lingkungan sekitar yang belum mendapatkan tempat bermain dan belajar layaknya TK. 

"Dunia anak itu unik, polos dan asyik. Sayang kalau anak Indonesia tidak diarahkan untuk mencintai bangsa dan budayanya sendiri. Miris saya melihat anak dengan sopan santun dan Budi pekerti yang kurang. Ini yang membuat saya kemudian ingin mendirikan TK. Beruntung saya memiliki orangtua yang suport jadi saya mendirikan TK didampingi ibu karena usia masih 19 tahun," urai perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Fakultas Hukum UGM dengan IPK 4,00 (Cumlaude) ini.

TK Perintis dari Yayasan Ki Juru Mertani adalah pilihannya untuk mengabdi dan menyumbangkan pikiran bagi perkembangan dunia anak. Meski pendidikan yang digeluti jauh dari jurusan yang berhubungan dengan dunia anak namun ia didampingi tenaga pengajar dari jurusan pendidikan anak serta jurusan psikologi.

TK Perintis yang berada di kawasan Karangasem RT 4 RT 25  Sendangtirto Berbah Sleman yang berdiri sejak 2012 ini telah terakreditasi A dengan jumlah siswa sebanyak 60 anak dan sebelumnya hanya memiliki 6 siswa.
"Yayasan dan TK ini merupakan lembaga non profit. Artinya yayasan tidak mengambil untung sama sekali. Seluruh dana yang dihimpun dari wali siswa sepenuhnya untuk operasional dan kebutuhan siswa selama bersekolah," urai Uni.

Perempuan yang menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Hukum UII dengan IPK  3,98 ini mengaku hanya ada satu alasan mengapa ia akhirnya mendirikan TK.

"Alasannya hanya kepedulian saja. Konsep dan konsentrasi TK Perintis fokus pada pendidikan nasionalisme yang disana diajarkan bagaimana sikap tenggang rasa dan tepa selira antar siswa yang berbeda suku dan agama. Unggah ungguh dan kesopanan anak dengan orangtua yang lebih tua, bagaimana siswa cinta, suka dan bangga dengan budaya dan seni di Indonesia," urai perempuan alumni SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta ini.

Perempuan yang menyelesaikan studi S1 selama 3,4 tahun dan S2 selama 2,3 tahun ini menegaskan konsep TK Perintis tidak hanya konsentrasi pada penanaman nilai agama saja tetapi juga nasionalisme. 

"Pengasuhan anak ada dua hal pokok yakni pendidikan dan agama.Pendidikan melahirkan orang berilmu dan agama mendidik akhlak. Jadi dua hal ini tidak dapat dipisahkan. Mengapa saya memilih TK, karena anak usia 4-6 tahun ini adalah umur yang paling mudah untuk dibentuk," jelas perempuan berkacamata ini.

Sikap nasionalisme juga ditunjukkan Uni dari harapannya untuk segera belajar lagi mengambil S3. Untuk pendidikan doktor ia mengaku tidak ingin sekolah ke luar negeri. "Di negeri sendiri tidak kalah berkualitas jadi jika ada kesempatan untuk S3 saya akan tetap memilih belajar di Indonesia," tuturnya dengan mantap. (Rahajeng Pramesi)

BERITA REKOMENDASI