Mahasiswa UGM Ini Kehilangan Penglihatan Saat Kuliah, Sempat Terpuruk Namun Akhirnya Bangkit

user
danar 23 Februari 2022, 19:50 WIB
untitled

GIRI TRISNO PUTRA SAMBADA (25) resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (23/2/2022). Ia diwisuda dengan Indeks Prestasi 3,43 atau sangat memuaskan dari prodi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM.

Perjalanan Giri tidak mudah hingga bisa lulus dan diwisuda di UGM. Ia harus merasakan fase terpuruk dalam kehidupannya karena kehilangan pengelihataan saat berada saat masa kuliah tahun 2015 silam.

Saat itu ia tengah menjalani semester kedua saat secara tiba-tiba penglihatannya hilang. Dunianya seolah runtuh, karena seketika cita-cita dan harapannya direnggut setelah tak bisa lagi melihat.

Giri pun menceritakan fungsi pengelihatannya menurun saat ia mengikuti perkuliahan di kelas, tanpa merasa sakit sebelumnya. Bahkan, secara tiba-tiba ia mulai tidak bisa melihat setelah sebelumnya semua terlihat samar dan semua wajah teman dan yang dilihatnya hanya berwarna putih.

Ia sempat menjalani perawatan di RSUP Dr Sardjito selama 4 bulan dengan diagnosa mengalami peradangan pada saraf mata. Hingga kinipun penyebabnya masih menjadi tanda tanya tim dokter.

“Waktu itu kan rawat inap pertama sekitar 10 hari lalu pulang ke rumah, itu masih masa masa ujian akhir semester (UAS). Saya nekat ngampus untuk UAS, tapi sampai kelas nangis karena tidak bisa membaca dan nulis akhirnya pulang dijemput bapak,” ungkapnya seusai wisuda.

Ia terpuruk, menyadari sudah tidak bisa melihat lagi seperti dulu dan kebingungan menjalani hidup. Bersama keluarga, ia memutuskan untuk cuti kuliah selama lima semester dan menjalani terapi di berbagai tempat namun hasilnya sama saja.

Pengelihatannya memburuk hingga apa yang dilihat menjadi seluruhnya hitam dan gelap. Tiga tahun menjadi fase bagi dia untuk menghimpun kekuatan, memantapkan hati dan pikiran untuk memulai kembali kehidupan.

Lalu ia pun memutuskan untuk kembali masuk kuliah di tahun 2018 dengan kecemasan yang tetap mengiringi langkah. Tak hanya teman-teman yang semua baru, tetapi juga kekhawatiran bagaimana akses dalam pembelajaran.

Perlahan ia membangun komunikasi dengan teman, dosen, dan fakultas. Pihak UGM pun memahami situasi yang dialami Giri dan membantu mengurai persoalan yang dihadapinya.

“Saat masuk itu kepedulian terhadap disabilitas belum seperti saat ini, tetapi dengan usaha dan komunikasi yang baik bisa terbentuk suasa inklusif bagi disabilitas. Materi pembelajaran dari dosen bisa saya terima termasuk adanya bantuan dari asisten dosen yang sangat berarti. Saya bersyukur bisa lulus dan berjuang bahwa dengan keterbatasan, kita tetap bisa berusaha menjadu lebih baik,” tandas warga Minggiran Mantrijeron ini.

Giri membuktikan, difabel dengan keterbatasan bisa tetap berprestasi. Ia berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan sarjana dari Tanoto Foundation dan kini kembali memperoleh beasiswa dari lembaga tersebut untuk melanjutkan pendidikan jenjang S2 di FEB UGM.

Giri pun telah dinyatakan diterima kuliah program Magister Sains FEB UGM. Ia juga terpilih menerima penghargaan dari Presiden yang diserahkan oleh staf khusus presiden Angkie Yudistia pada Desember 2021 lalu.

Hasil penelitian skripsi berjudul Manajemen di Era Digitalisasi juga terpilih masuk menjadi book chapter yang akan diterbitkan Departemen Manajemen FEB UGM. Ia pun banyak diundang menjadi pembicara diberbagai kesempatan terkait menumbuhkan lingkungan inklusif bagi difabel.

Cita-citanya kembali digantungkan tinggi. Setelah lulus S2 nanti, Giri berencana berkarya menjadi dosen. Ia ingin berperan dalam mewujudkan Indonesia yang maju, terbuka, bertoleransi serta memberikan kemudahan bagi penyandang disabilitas melalui pendidikan sebagai pintu utamanya. (Fxh)

Credits

Bagikan